<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pelangi Di Seberang Mentari &#187; penghasilan</title>
	<atom:link href="http://pelangiku.com/tag/penghasilan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pelangiku.com</link>
	<description>Untaian warna-warni menghiasi bentangan kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 15 Oct 2010 11:13:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ditaksir Klien</title>
		<link>http://pelangiku.com/2010/01/ditaksir-klien/</link>
		<comments>http://pelangiku.com/2010/01/ditaksir-klien/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 04:03:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelly</dc:creator>
				<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[penghasilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelangiku.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[kalau salah satu klien getol banget ngajakin ketemuan terus, sih, jadinya nggak asyik juga. Kalau nolak, takut tender batal. Buntutnya, kita yang kena semprot atasan. Tapi mendiamkan sikap klien yang intens banget ngejar kita, kok, nggak nyaman juga, ya.... Biar nggak makin jengah, coba trik ini]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_520" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://pelangiku.com/2009/05/berenang-yuk/"><img class="size-full wp-image-520" title="ketemu klien" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2010/01/people-meeting.jpg" alt="people meeting" width="230" height="315" /></a><p class="wp-caption-text">ketemu klien</p></div>
<p>Bertemu klien berbeda setiap hari pasti seru. Kita bisa dapat teman baru plus <a title="cara sederhana melebarkan jalinan persahabatan" href="http://carahidupkita.blogspot.com/2009/12/cara-cara-sederhana-melebarkan-jalinan.html" target="_blank">memperluas jejaring</a>. Tapi kalau salah satu klien getol banget ngajakin ketemuan terus, sih, jadinya nggak asyik juga.</p>
<p>Kalau nolak, takut tender batal. Buntutnya, kita yang kena semprot atasan. Tapi mendiamkan sikap klien yang intens banget ngejar kita, kok, nggak nyaman juga, ya&#8230;. Biar nggak makin jengah, coba trik ini.</p>
<h2>Bukan CDMA</h2>
<p>Pertemuan pertama dengan klien pasti nggak absen dengan tukar nomor kontak. Sebaiknya hanya berikan nomor telepon dan alamat e-mail kantor, karena tujuannya membahas masalah kerja.</p>
<p>Jika klien minta nomor ponsel, berikan nomor GSM kita yang sudah tersebar. Nggak perlu berikan nomor CDMA yang kita pakai untuk keperluan pribadi. Klien bisa tergoda terus-terus menelepon kita &#8211; pulsa CDMA, kan, murmer.</p>
<p><span id="more-519"></span>Setiap kali menulis e-mail untuk klien, pastikan subjeknya jelas. Maksudnya, sih, agar klien yakin kita hanya membicarakan pekerjaan. Nggak perlu menambah emoticon seperti <img src='http://pelangiku.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  atau <img src='http://pelangiku.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> , meski menanggapi e-mail yang lucu. Dengan begitu, kesannya kita nggak mudah tergoda!</p>
<p>Biasanya rapat dengan klien dilanjutkan makan siang. Tapi tolak saja kalau klien mengajak kita rapat berdua saja saat weekend. Katakan atasan nggak mengizinkan kita bekerja di luar jam kerja. Kalau kita mengiyakan, bukan nggak mungkin klien mengajak lagi.</p>
<h2>Mak Comblang Dadakan</h2>
<div id="attachment_521" class="wp-caption alignright" style="width: 240px"><a href="http://trytostayhealthy.blogspot.com/2010/01/bad-dental-hygiene-effects.html"><img class="size-full wp-image-521" title="mak comblang" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2010/01/mak-comblang.jpg" alt="mak comblang" width="230" height="153" /></a><p class="wp-caption-text">mak comblang</p></div>
<p>Jika klien sebenarnya baik &#8211; tapi kita nggak tertarik &#8211; boleh, tuh, jodohkan dengan teman kita. Caranya, ajak teman ikut makan siang bareng kita dan klien. Kalau mereka cepat akrab, kita juga yang aman, dong.</p>
<h2>Cincin Manis</h2>
<p>Klien biasanya cenderung jadi super ganjen kalau dia tahu kita jomblo. Makanya sebelum bertemu klien, pakai cincin di jari manis kita. Biar saja dia mengira kita sudah bertunangan atau menikah. Kalau nggak mempan, coba, deh, pura-pura menerima telepon dari pacar saat di depan klien. Ucapkan kata-kata mesra agar nyali klien ciut.</p>
<h2>Bos, Mau Curhat &#8230;</h2>
<p>Susah-payah secara halus kita menolak klien, dia masih semangat mengganggu kita, bahkan mengancam tidak meluluskan tender jika kita enggan lunch date dengannya. Kita bisa, kok, mengadu ke atasan.</p>
<p>Ceritakan apa yang sudah dilakukan klien plus tunjukkan buktinya, misalnya SMS-nya yang kecentilan. Paling nggak, atasan kita bisa melaporkan klien ke atasannya langsung untuk menegur klien.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelangiku.com/2010/01/ditaksir-klien/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Balikin Donk!</title>
		<link>http://pelangiku.com/2009/12/balikin-donk/</link>
		<comments>http://pelangiku.com/2009/12/balikin-donk/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 13:50:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelly</dc:creator>
				<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[penghasilan]]></category>
		<category><![CDATA[solusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelangiku.com/?p=494</guid>
		<description><![CDATA[Punya utang memang nggak enak. Tapi kadang, diutangin lebih nggak enak. Apalagi kalau yang berutang adalah teman sendiri - sulit nagihnya!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_495" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://pelangiku.com/2009/03/bahaya-di-balik-laptop/"><img class="size-full wp-image-495" title="nagih utang" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2009/12/nagih-utang.jpg" alt="nagih utang" width="230" height="216" /></a><p class="wp-caption-text">nagih utang</p></div>
<p>Punya utang memang nggak enak. Tapi kadang, diutangin lebih nggak enak. Apalagi kalau yang berutang adalah teman sendiri &#8211; sulit nagihnya! Ada rasa segan, nggak enak, atau malah gengsi buat nagih karena kesannya kayak debt collector. Betenya lagi, nggak semua orang punya kesadaran untuk membayar &#8211; padahal mereka sudah pegang duit. Biar harta kita segera kembali.</p>
<h2>Orang Ketiga</h2>
<p>Minta bantuan orang ketiga (teman lain) buat akting bareng kita. Di depan si pengutang, kita mau pinjam uang ke teman lain. Nah, siapa tahu dia jadi ingat kalau punya utang pada kita.</p>
<h2>Gantian Donk &#8230;</h2>
<p>Pura-pura saja pinjam uang sama yang bersangkutan. Syukur-syukur, dia langsung ingat dan bayar utangnya. Kalaupun nggak ingat, saat kita mengembalikan uangnya, langsung potong saja! Jangan lupa bilang kalau uangnya kita potong utangnya dulu.</p>
<p><span id="more-494"></span></p>
<h2>Message Delivered</h2>
<p>Kalau nggak pede ngomong langsung, kirim saja SMS. Usahain bikin kalimat yang langsung dan tegas. Biarpun nggak ngomong Langsung, dia tetap merasa kita serius menagih.</p>
<h2>To The Point</h2>
<p>Paling enak, sih, memang menagih langsung. Cari sikon yang pas biar dia nggak tersinggung. Bilang saja kalau kita sedang bokek (sebokek-bokeknya!) dan butuh pituang Kalau memang saat itu dia nggak bisa, beri tenggat waktu yang disepakati bersama.</p>
<h2>Satu Tenggat Waktu</h2>
<p>Yang paling aman, sih, sebelum memberikan utang, kita bikin kesepakatan kapan utang itu harus dilunasi. Nah, kalau sudah lewat dari tenggat waktu, dia harus siap kita tagih. Jadinya kita juga lebih enak nagihnya, nggak perlu sungkan.</p>
<h2>Write The Wall</h2>
<p>Kalau tetap nggak mempan, boleh banget kita coba cara yang lebih ekstrem, misalnya menulis tentang utangnya di wall Facebook-nya, hi hi hi. Kalau &#8217;seluruh dunia&#8217; tahu, kan, dia malu sendiri, tuh. Tapi, gunakan cara ini hanya kalau utangnya cukup besar dan dia selalu cari alasan, ya.</p>
<h2>Sok Pelit</h2>
<p>Bukan maksud hati pelit, tapi kalau ada teman terkenal suka &#8216;lupa&#8217; bayar utang, mendingan pikir dua kali, deh, untuk meminjamkan, apalagi kalau kebutuhannya nggak terlalu mendesak. Buat mengelak, bilang kalau kita sedang bokek, atau uangnya baru terpakai untuk beli buku teks yang mahal banget. Uang kita aman, hubungan pertemanan tetap jalan.</p>
<p>Ada usulan lain barangkali ?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelangiku.com/2009/12/balikin-donk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>61</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau Hobi Jadi Profesi</title>
		<link>http://pelangiku.com/2009/08/kalau-hobi-jadi-profesi/</link>
		<comments>http://pelangiku.com/2009/08/kalau-hobi-jadi-profesi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 01:01:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelly</dc:creator>
				<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[penghasilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelangiku.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Dibayar untuk mengerjakan apa yang kita suka? Mau banget! Some peoples have all the luck. Kuliah di jurusan pilihan, di kampus favorit pula. Begitu lulus langsung kerja di bidang yang diinginkan. Sebenarnya kita juga bisa jadi orang yang beruntung seperti itu. Jadikan hobi sebagai profesi!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_342" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://miacantik.com/bisnis-cerdas-rumahan-a-la-dbc-network/"><img class="size-full wp-image-342" title="kerja di rumah" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2009/08/work-at-home.jpg" alt="kerja di rumah" width="230" height="163" /></a><p class="wp-caption-text">kerja di rumah</p></div>
<p>Dibayar untuk mengerjakan apa yang kita suka? Mau banget! <em>Some peoples have all the luck</em>. Kuliah di jurusan pilihan, di kampus favorit pula. Begitu lulus langsung kerja di bidang yang diinginkan. Sebenarnya kita juga bisa jadi orang yang beruntung seperti itu. Jadikan hobi sebagai profesi!</p>
<h2>Komersial, Nih</h2>
<p>Bukan mustahil, kok, menjadikan hobi sebagai sumber penghasilan kita, seperti jadi penyanyi pro karena senang menyanyi atau punya show kuliner sendiri karena senang masak. Tetapi itu memang nggak gampang. Ada beberapa hal yang perlu kita pahami sebelum melaksanakan niat ini.</p>
<p>Hal pertama adalah melihat peluang komersial dari hobi kita. Nggak semua hobi dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai jual. Hobi yang bisa dijadikan profesi adalah hobi yang bisa jadi sumber bisnis. Contohnya fotografi atau kerajinan tangan yang menghasilkan produk seperti hiasan rambut, kotak serbaguna, dan masih banyak lagi.</p>
<h2>Mau Mulai?</h2>
<p>Biasanya nih, kendala terbesar kita adalah cara memulainya. Mendengar banyak orang jadi tajir karena hobi, sih, sering. Tapi untuk mengaplikasikan contoh tersebut pada diri sendiri rasanya susah banget. Kita bisa mulai dari teman-teman dekat. Contohnya, hobi kita membuat kartu ucapan.</p>
<p>Mula-mula, kita bisa menawarkannya pada teman nongkrong atau saudara. Jika laris manis, itu berarti hobi kita punya peluang bisnis. Mulai, deh, titipin karya kita ke tempat yang lebih umum seperti toko atau bikin website untuk jualan secara online.</p>
<p><span id="more-340"></span>Bergabung dalam komunitas yang memiliki kesamaan hobi akan sangat membantu. Manfaatkan milis-milis hobi, dong! Bukan hanya memperluas pangsa pasar, di sini kita juga bisa sharing mengenai peluang bisnis dari hobi kita itu. Peluang mendapat rekan bisnis pun terbuka lebar. Semakin banyak komunitas, semakin baik.</p>
<h2>Patut Dilirik</h2>
<p>Di zaman sekarang, kemajuan teknologi benar-benar membawa berkah<br />
buat yang jeli melihat peluang bisnis. Kita bisa mencoba memasarkan<br />
barang-barang hasil produksi hobi kita di dunia maya. Saat ini, nggak sedikit orang yang &#8216;jualan&#8217; di website atau blog pribadi. Proses transaksi yang nggak ribet dan bisa dilakukan sambil kerja atau sambil santai di rumah.</p>
<h2>Kerja Kantoran Jadi Pilihan.</h2>
<p>Penting diingat bahwa dalam bisnis pasti ada saja kendalanya. Nggak sedikit hobi yang masih terlalu berisiko untuk langsung dijadikan profesi utama. Apalagi kalau hobi kita itu sangat spesifik seperti membuat pergamano, paper tole atau art clay. Biar sukses memasarkannya, lagi-lagi diperlukan jaringan yang luas.</p>
<p>Jika kita nggak beruntung menjadikan hobi sebagai bisnis, carilah pekerjaan yang bisa menyalurkan hobi kita. Misalnya, kita suka banget menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan di blog atau buku harian. Kenapa nggak melamar jadi reporter di majalah? Apalagi jadi penulis nggak perlu pendidikan khusus. Yang penting memang suka dan tulisannya enak dibaca!</p>
<p>Demikian juga halnya dengan hobi desain, kita bisa bergabung dengan tim kreatif di perusahaan advertising atau majalah. Hobi mengutak-atik komputer juga bisa kita salurkan dengan gabung di divisi Teknologi Informasi. Selain hobi tersalurkan, kita mendapatkan bayaran untuk hasil kerja kita. Asyik!</p>
<h2>Harus Punya Juga</h2>
<p>Menjadikan hobi sebagai profesi juga harus didukung oleh hal-hal berikut:</p>
<ul>
<li><strong>Tekun dan rajin mengasah</strong><br />
Senang saja nggak cukup untuk jadi alasan memulai bisnis dari hobi. Kita harus menjadi ahli agar mampu bersaing dan bertahan. Makanya perlu banget, tuh, terus-menerus mengasah kemampuan. Mengorbankan waktu, dana, ikut pelatihan, rajin mencari informasi di berbagai media adalah beberapa cara untuk mengoptimalkan hobi kita.</li>
<li><strong>Cerdas kelola emosi</strong><br />
Keunggulan menjalani hobi sebagai bisnis, kita memiliki &#8216;jiwa&#8217; pada pekerjaan itu. Tetapi menjalani hobi sebagai kesenangan tekanannya akan berbeda begitu dijadikan sumber penghasilan. Kalau semangat dan antusiasme tidak kita kelola terus-menerus, semangat bisa kendor ketika menghadapi masalah. Dibutuhkan komitmen kuat agar kita juga konsisten menjalani profesi ini.</li>
<li><strong>Perluas ilmu</strong><br />
Agar bisnis berjalan lancar, nggak ada salahnya mempelajari ilmu<br />
lain yang mendukung, seperti ilmu manajemen dan marketing. Dengan mempelajari keduanya, kita punya pegangan untuk menjalankan bisnis dengan baik. lalas sekolah lagi? Banyak membaca, ikut pelatihan, atau bertanya kepada teman dengan latar belakang pendidikan tersebut cukup membantu, kok!</li>
</ul>
<h2>Ramai-ramai Jadi Entrepreneur</h2>
<p>Kalau memang kita nggak suka bekerja dengan aturan dan waktu tetap seperti yang diterapkan pada perusahaan-perusahaan, bisa saja memilih untuk memulai bisnis sendiri. Sebelum mulai usaha sendiri pastikan dulu kita punya:</p>
<ul>
<li><strong>Modal</strong><br />
Pertama sih, modal uang. Kita perlu manganalisis seberapa besar modal yang kita butuhkan sebelum memulai bisnis. Pastikan kita tahu keadaan pasar dan gambaran kasar pengeluaran kita.</li>
<li><strong>Peluang</strong><br />
Perlu diperhatikan juga besarnya peluang untuk memasarkan produk. Karena itu, kita juga perlu melihat daya beli masyarakat akan produk kita. Jangan pakai bahan dasar yang terlalu mahal untuk menekan biaya produksi, sehingga produk kita bisa dijual dengan harga terjangkau.</li>
<li><strong>Keberuntungan</strong><br />
Faktor terakhir, tidak dapat dipungkiri, adalah faktor yang bisa mengubah seluruh keadaan. Kalau belum rezeki, tabah, ya&#8230;.</li>
</ul>
<h2>Anti Gagal</h2>
<p>Namanya juga usaha. Menemui jalan buntu atau kegagalan adalah hal lumrah, tapi nggak lantas kita melulu terpuruk, dong. Praktekkan cara ini ketika kita menemui kegagalan!</p>
<ul>
<li><strong>Evaluasi Ulang</strong><br />
Coba ingat-ingat dan diurutkan bagaimana cara kita menjalankan bisnis itu. Cari tahu kelemahan dan kesalahan kita ada di mana, agar jadi pelajaran dan nggak kita ulangi lagi.</li>
<li><strong>Jangan Diduain</strong><br />
Kalau memang niat serius di usaha sendiri (entrepreneui) sebaiknya jangan menjalani dua pekerjaan sekaligus kerja kantoran dan toko. Mengatur produksi, pemasaran, dan penjualan nggak akan beres kalau pikiran kita terbagi dua, beda kalau kita punya partner terpercaya.</li>
<li><strong>Lebih Giat Lagi</strong><br />
Nggak hanya giat memproduksi barang-barang baru, tetapi juga cara memasarkannya! Sebatas mengandalkan saudara atau teman dekat sebagai pelanggan kita bikin usaha kita berjalan lambat. Berani ikutan bazar (jangan lupa bikin kartu nama yang keren dan eyecatching!) atau pameran lainnya. Kalau harga sewa stan terlalu mahal, cari pengusaha kecil lain (yang bidang jualannya beda) buat patungan.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelangiku.com/2009/08/kalau-hobi-jadi-profesi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Banting Setir Saja!</title>
		<link>http://pelangiku.com/2009/05/banting-setir-saja/</link>
		<comments>http://pelangiku.com/2009/05/banting-setir-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 00:59:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelly</dc:creator>
				<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[penghasilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelangiku.com/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[Maunya, nih, kita bertahan di perusahaan tempat kita bekerja dalam waktu cukup lama. Kita bakal makin ahli, nama baik kita juga terjaga. Tapi ada kalanya kita sebaiknya 'menyerah' dan banting setir bekerja di bidang yang sama sekali baru]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_237" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://miacantik/dbc"><img class="size-full wp-image-237" title="uturn03" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2009/05/uturn03.jpg" alt="balik arah" width="230" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">balik arah</p></div>
<p>Maunya, nih, kita bertahan di perusahaan tempat kita bekerja dalam waktu cukup lama. Kita bakal makin ahli, nama baik kita juga terjaga. Tapi ada kalanya kita sebaiknya &#8216;menyerah&#8217; dan banting setir bekerja di bidang yang sama sekali baru, seperti kalau:</p>
<h2>Karier mandek</h2>
<p>Menduduki posisi yang sama setelah tiga atau empat tahun bekerja tentu bukan hal menyenangkan. Apalagi kalau hal ini terjadi bukan karena kita yang nggak kompeten, tapi karena banyaknya senior yang masih &#8216;betah&#8217; menduduki posisi mereka. Kelamaan nungguin &#8216;urut kacang&#8217;? Boleh dilirik, tuh, peluang profesi di bidang lain yang memiliki jenjang karier lebih jelas dan fair!</p>
<h2>Tak ada gairah</h2>
<p>Nggak sedikit yang berpendapat kalau menjalankan suatu pekerjaan, tuh, mirip pacaran. Saat percikan-percikan cinta sudah nggak terasa lagi, kita mungkin kudu mengambil keputusan berat yaitu putus. Begitu juga dalam hal karier. Setelah sukses melewati masa dua tahun yang (dulu) penuh tantangan, sudah saatnya bagi kita untuk menjajal bidang lain yang lebih menantang.<br />
<span id="more-235"></span></p>
<h2>Beda banget</h2>
<p>Berkeluh kesah tiap hari mengenai masalah pskerjaan merupakan salah satu tanda kalau kita nggak cocok dengan pekerjaan tersebut. Nggak usah memaksakan diri untuk terus bekerja sebagai staf administrasi kalau kita pecicilan alias nggak bisa diam. Mendingan asah &#8216;bakat&#8217; kita di bidang pekerjaan lain yang lebih dinamis, seperti jurnalistik, presenter atau copy writer</p>
<h2>Penghasilan minim</h2>
<p>Harus diakui kalau gaji adalah motivator kuat saat kita bekerja. Nggak asyik kan, kalau kita mengerjakan tugas kantor asal-asalan karena gaji terlalu minim? Jika kita merasa mampu dan memiliki modal (kemampuan) untuk mengerjakan ienis pekerjaan lain yang bergaji lebih besar, kenapa nggak dicoba?</p>
<h2>Memberi pengaruh negatif</h2>
<p>Pekerjaan yang lebih banyak memberikan pengaruh negatif pada diri kita nggak patut dipertahankan. Nggak usah ragu-ragu, deh, untuk banting setir jika orang-orang dari bidang pekerjaan kita hobi mengonsumsi narkoba atau memiliki atasan yang galaknya udah engga banget.</p>
<p>Bagaimanapun nyawa dan keselamatan merupakan prioritas utama, tuh&#8230;. Buat apa penghasilan besar kalau hati kita selalu merasa nggak nyaman dan tenang?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelangiku.com/2009/05/banting-setir-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

