<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pelangi Di Seberang Mentari &#187; pekerjaan</title>
	<atom:link href="http://pelangiku.com/tag/pekerjaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pelangiku.com</link>
	<description>Untaian warna-warni menghiasi bentangan kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 15 Oct 2010 11:13:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kerja Tim</title>
		<link>http://pelangiku.com/2010/05/kerja-tim/</link>
		<comments>http://pelangiku.com/2010/05/kerja-tim/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 May 2010 06:37:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelly</dc:creator>
				<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[kerja tim]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelangiku.com/?p=626</guid>
		<description><![CDATA[Budaya kerja tim dalam perusahaan memang sudah nggak asing lagi. Tapi agar kerja tim - bukan memanfaatkan rekan kerja - bisa berjalan lancar, kudu pakai aturan, dong!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_627" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><img class="size-full wp-image-627" title="kerja tim" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2010/05/kerjatim1.jpg" alt="kerja tim" width="230" height="209" /><p class="wp-caption-text">kerja tim</p></div>
<p>Saat berhalangan masuk, ada rekan yang back up pekerjaan kita. Berbagai cara kita coba, tapi klien nggak juga takluk, rekan kitalah yang membantu mengambil alih.</p>
<p>Budaya kerja tim dalam perusahaan memang sudah nggak asing lagi. Tapi agar kerja tim &#8211; bukan memanfaatkan rekan kerja &#8211; bisa berjalan lancar, kudu pakai aturan, dong!</p>
<h2>Kudu Kompak</h2>
<p>Hampir semua pekerjaan butuh kerja tim. Sebut saja dalam bidang jurnalistik. Seandainya kita harus menentukan ide, menulis, mengedit sampai lay out satu artikel sendirian, hasilnya pasti nggak maksimal dan butuh waktu lama, deh! Tapi dengan kerja tim, artikel bisa cepat selesai dan kemungkinan salahnya pun bisa diminimalkan.</p>
<p><span id="more-626"></span>Nah, keberhasilan kerja tim sangat ditentukan kekompakan anggotanya. Tim bisa kompak kalau semua anggota paham tujuan yang ingin dicapai bersama. Misalnya, nih, perusahaan baru meluncurkan satu produk. Tim pemasaran diberi target penjualan. Berarti tim pemasaran harus bahu-membahu mencapai tujuan tersebut. Nggak masalah seandainya pun terjadi persaingan banyak-banyakan menjual. Tujuannya, kan, tetap menjual&#8230;.</p>
<h2>Berat Sebelah = Gawat!</h2>
<p>Perlakuan tidak adil adalah cikal-bakal perpecahan dalam kelompok. Makanya dalam tim harus diterapkan peraturan, pembagian dan mekanisme kerja yang jelas. Jangan sampai ada yang merasa beban kerjanya lebih berat dari yang lain.</p>
<p>Karena itu idealnya anggota tim berjumlah sekitar lima orang. Jumlah anggota tim tergantung pada apa yang dikerjakan. Jika pekerjaannya banyak, tim dapat dipecah-pecah menjadi beberapa tim kecil supaya mudah dikoordinasi.</p>
<p>Jangan lupa mengadakan evaluasi hasil kerja secara periodik, selain untuk dapat memantau sejauh mana pencapaian tim, berguna juga untuk memompa semangat kerja mencapai tujuan berikutnya.</p>
<h2>It&#8217;s Complicated</h2>
<div id="attachment_628" class="wp-caption alignright" style="width: 240px"><img class="size-full wp-image-628" title="complicated" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2010/05/complicated.jpg" alt="complicated" width="230" height="191" /><p class="wp-caption-text">complicated</p></div>
<p>Biasanya banyak kepala banyak konflik, hal ini terjadi juga dalam kerja tim. Namanya juga menyatukan aneka ragam karakter dan talenta, pasti ada saja bentroknya. Namun ibarat bhinneka tunggal ika, berbeda-beda tapi tetap satu, dong&#8230; he he he! Lagipula, ternyata, nih, keberagaman membuat kita lebih kreatif.</p>
<p>Kita dilatih untuk lebih fleksibel dengan segala hal. Juga makin terpacu untuk lebih kreatif dan inovatif. Pekerjaan juga jadi lebih mudah dan cepat selesai karena dibagikan kepada masing-masing anggota sesuai kemampuannya. Jadi, kalau lagi gondok berat dengan rekan kerja, ingat saja sisi baiknya &#8211; dia membantu pekerjaan kita juga.</p>
<h2>Atasi Konflik</h2>
<p>Sejak awal, konflik dalam kerja tim seharusnya bisa diminimalkan dengan pembagian tanggung jawab yang jelas. Bedakan porsi tanggung jawab berdasarkan kompetensi masing-masing anggota. Tapi kalau memang tingkatan atau bobot tanggung jawab dalam tim sama, boleh saja membagi rata tanggung jawab tersebut</p>
<p>Sekali lagi, hal tersebut adalah tanggung pimpinan tim. Pemimpin jugalah yang harus piawai menyatukan semua pribadi dalam tim agar tetap kompak. Namun, memang karena perbedaan budaya dan cara kerja masing-masing orang, semuanya membutuhkan waktu dan keterampilan pengorganisasian yang baik.</p>
<h2>Kenali Penjahatnya</h2>
<p>Rekan setim ingin tampil melulu? Jangan dibiarkan. Sikapnya itu bisa merugikan kita dan rekan lain dalam tim. Memang bakal selalu ada orang yang ingin memonopoli.</p>
<p>Nggak semua orang bisa dengan mudah patuh dan menghargai kesepakatan yang sudah ditetapkan, baik itu mengenai tugas maupun wewenang kerja. Untuk menghindarinya, pemimpin tim harus selalu memantau dinamika kerja anggotanya. Juga kita harus tegas dengan aturan-aturan yang sudah disepakati di awal.</p>
<p>Selain tipe pemonopoli atau dominan, ada individu yang nggak bisa beradaptasi dengan budaya kerja tim. Ciri-cirinya: maunya kerja sendiri melulu, nggak mau terima masukan dan kritik, atau sulit masuk dengan rekan setim lainnya (dengan berbagai alasan). Tipe rekan seperti ini juga menghambat kerja tim.</p>
<p>Supaya pekerjaan nggak terhambat, pastikan bahwa orang itu punya tujuan yang sama dengan anggota tim lain. Namun jangan menjauhinya. Soalnya, bisa jadi orang tersebut memang kurang mengerti dengan porsi tugasnya. Untuk mengatasinya, perlu diberi pelatihan atau konseling. Kalau tidak berubah juga, terapkan hukuman yang tegas sesuai aturan tim secara bertahap.</p>
<p>Nggak mempan juga? Pertimbangkan, deh, apakah keberadaan orang tersebut dalam tim masih relevan atau tidak.</p>
<h2>Usir Rasa Malas</h2>
<p>Saat lagi &#8216;perang ide&#8217;, kita diam seribu bahasa. Giliran kerja juga lambaaat banget. Boro-boro mengambil inisiatif buat bantuin rekan yang lain, pekerjaan sendiri saja nggak kelar-kelar.</p>
<p>Sifat malas dan egois bisa membuat anggota tim yang lain segan bekerja sama dengan kita. Apalagi jika kita nggak mau tunduk pada peraturan, kesannya seperti nggak menghargai kerja keras rekan yang lain. Makanya kita harus terus memacu diri dan merasa bertanggung jawab pada hasil kerja tim.</p>
<p>Sadari juga kelemahan kita. Misalnya, nih, kita tipe yang blak-blakan kalau ngomong. Lihat-lihat dulu, deh, apakah rekan setim bisa menerima sifat kita tersebut. Kalau ternyata menyinggung rekan kerja yang lain, ada baiknya kita yang mengambil inisiatif untuk berubah. Atau, cari pendekatan berbeda. Itu baru namanya kerja tim!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelangiku.com/2010/05/kerja-tim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Impulsif Donk &#8230;</title>
		<link>http://pelangiku.com/2010/03/jangan-impulsif-donk/</link>
		<comments>http://pelangiku.com/2010/03/jangan-impulsif-donk/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 00:15:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelly</dc:creator>
				<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[impulsif]]></category>
		<category><![CDATA[kantor]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelangiku.com/?p=542</guid>
		<description><![CDATA[Seperti anak-anak tidak bisa mengendalikan diri dan ngambek jika keinginannya tidak terpenuhi, begitu pula si impulsif. Makanya, kalau sudah mengaku dewasa jangan impulsif lagi dong!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_541" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://pelangiku.com/daftar-isi/"><img class="size-full wp-image-541" title="impulsif" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2010/03/impulsif.jpg" alt="impulsif" width="230" height="175" /></a><p class="wp-caption-text">impulsif</p></div>
<p>Siapa, sih, yang nggak senang kalau semua kemauannya terpenuhi? Sayang, di dunia ini nggak bisa begitu. Ada kalanya, agar nggak menyesal belakangan, kita harus mikir berkali-kali sebelum bertindak.</p>
<p>Dalam situasi tertentu, memang dibutuhkan spontanitas. Tapi jangan keterusan bertindak menuruti emosi tanpa pertimbangan, bisa-bisa rugi sendiri!</p>
<h2>Mudah diprovokasi</h2>
<p>Tanpa alasan si dia mutusin kita. Bukan cuma kesal dan sedih, kita juga jadi sensitif dan mudah tersinggung. Akibatnya terbawa-bawa sampai ke kantor. Rekan kerja salah sedikit saja, langsung kita omelin sampai puas. Atasan nggak meloloskan permohonan cuti kita, kita langsung nangis heboh. Kenapa, sih, nggak ada orang yang ngerti perasaan kita?</p>
<p><span id="more-542"></span>Seseorang yang impulsif ingin kemauannya segera terpenuhi. Dia nggak berpikir panjang saat bertindak, yang penting puas dulu. Ujung-ujungnya baru, deh, menyesal.</p>
<p><img title="More..." src="http://localhost/wordpress27/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" />Seseorang jadi impulsif didorong sifat temperamental yang dimilikinya. Umumnya si impulsif mudah terpancing emosinya. Mereka juga tidak bisa mengendalikan diri saat menghadapi tekanan.</p>
<p>Ketika dalam tekanan, si impulsif merasa terancam dan menganggap orang lain sebagai musuh, sehingga cenderung melakukan tindakan negatif. Bahkan, mereka bisa memutuskan untuk bunuh diri saja!</p>
<h2>Dari sananya, sih</h2>
<div id="attachment_543" class="wp-caption alignright" style="width: 210px"><a href="http://ceritainspirasimuslim.blogspot.com/2010/03/panglima-perang-termuda.html"><img class="size-full wp-image-543" title="anak marah" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2010/03/anakmarah.jpg" alt="anak marah" width="200" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">anak marah</p></div>
<p>Penyebab seseorang berpribadi impulsif ada dua. Penyebab pertama karena bawaan genetik. Selebihnya, karena pengaruh lingkungan.</p>
<p>Meski nggak sedikit orang yang dilahirkan dengan bibit impulsif, umumnya, sih, proses pembelajaran sejak kecilah yang lebih banyak menjadi penyebabnya.</p>
<p>Jika seseorang terbiasa melihat orang-orang terdekatnya bereaksi emosional terhadap hal-hal yang mengganggunya, dia pun akan meniru sikap tersebut.</p>
<p>Seorang anak akan mempelajari reaksi orangtuanya dalam menghadapi situasi. Jika dia melihat sang ayah membanting piring saat kesal, maka dia akan mencontohnya.</p>
<p>Jika nggak dikontrol, sifat impulsif dalam diri seseorang akan mendarah daging. Sayang, banyak orangtua yang membiarkan anaknya bersikap semaunya dan menuruti dorongan hatinya. Padahal seharusnya mereka memberikan teguran terhadap tindakan impulsif sang anak.</p>
<h2>Rugi sendiri</h2>
<p>Salah satu kerugian memiliki sifat impulsif adalah terganggunya kehidupan sosial kita. Sifat ini melekat kuat di diri kita sehingga mewarnai semua aspek kehidupan dari karier hingga kehidupan pribadi. Ujung-ujungnya akan bikin susah diri sendiri.</p>
<p>Sifat impulsif dapat menghambat karier kita. Saat atasan memberikan kritik, misalnya, seseorang yang impulsif langsung jadi defensif. Dia nggak mau terima kritik tersebut dan malah balik menyerang atasannya. Tindakan impulsif juga bisa mempermalukan diri kita sendiri.</p>
<p>Contohnya, saking nggak bisa menahan emosir tanpa sadar kita memberi tontonan gratis di tempat-tempat umum, seperti bertengkar dengan pasangan sampai tampar-tamparan di jalanan (* males&#8230; *)!</p>
<h2>Dikekang Donk &#8230;</h2>
<p>Sifat impulsif ini tentu saja bukan harga mati untuk seseorang. Asal ada kemauan, kita bisa mengubah sifat ini, kok. Yang penting, nih, kita menyadari dulu kalau kita adalah orang yang impulsif dan emosional.</p>
<p>Selanjutnya kita kudu memiliki kemauan untuk mengontrol diri.<br />
Renungkan, deh, untung-rugi bersikap impulsif. Apakah selama ini kita lebih banyak mendapatkan hal positif atau sebaliknya? Kalau perlu, bikin daftar &#8216;kerugian&#8217; yang sudah kita peroleh selama ini.</p>
<p>Jangan lupa minta masukan dari orang terdekat juga. Biasanya mereka lebih sering kena getahnya, tuh! Saat merasa tertekan sebaiknya kita menjauhi hal-hal yang bisa membuat kita bertindak impulsif. Mendingan menyendiri sejenak, deh, kalau sepertinya kita akan meledak.</p>
<p>Selalu berpikir positif dengan melihat sisi baik dari setiap masalah, bahkan saat kita menerima kritik. Banyak, kok, kritik yang membangun, asal kita mau berbesar hati.</p>
<p>Biasa melihat keponakan yang masih balita nangis meraung-raung karena nggak dibelikan es krim? Nah, seperti itulah si impulsif. Seperti anak-anak tidak bisa mengendalikan diri dan ngambek jika keinginannya tidak terpenuhi, begitu pula si impulsif. Makanya, kalau sudah mengaku dewasa jangan impulsif lagi dong!</p>
<h2>Bentuk Lain</h2>
<div id="attachment_544" class="wp-caption alignleft" style="width: 220px"><a href="http://carahidupkita.blogspot.com/2010/02/pertanyaan-pertanyaan-refleksi-diri.html"><img class="size-full wp-image-544" title="pasangan impulsif" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2010/03/pasangan20.jpg" alt="pasangan impulsif" width="210" height="169" /></a><p class="wp-caption-text">pasangan impulsif</p></div>
<p>Orang yang impulsif memang emosional, tapi emosional nggak selalu identik dengan marah-marah. Ngasal mengambil keputusan juga merupakan contob bentuk emosional. Misalnya, nih, secara spontan seseorang membelanjakan uang yang ada di dompetnya untuk keperluan yang tidak terlalu mendesak.</p>
<p>Seseorang yang langsung memutuskan untuk menikah meski baru saling mengenal selama beberapa minggu, bahkan hari,  juga merupakan contoh tindakan impulsif. Karena merasa sudah benar-benar cinta, mereka nekat menikah dan nggak sedikit yang akhirnya bercerai walau pemikahannya baru seumur jagung!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelangiku.com/2010/03/jangan-impulsif-donk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ditaksir Klien</title>
		<link>http://pelangiku.com/2010/01/ditaksir-klien/</link>
		<comments>http://pelangiku.com/2010/01/ditaksir-klien/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 04:03:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelly</dc:creator>
				<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[penghasilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelangiku.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[kalau salah satu klien getol banget ngajakin ketemuan terus, sih, jadinya nggak asyik juga. Kalau nolak, takut tender batal. Buntutnya, kita yang kena semprot atasan. Tapi mendiamkan sikap klien yang intens banget ngejar kita, kok, nggak nyaman juga, ya.... Biar nggak makin jengah, coba trik ini]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_520" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://pelangiku.com/2009/05/berenang-yuk/"><img class="size-full wp-image-520" title="ketemu klien" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2010/01/people-meeting.jpg" alt="people meeting" width="230" height="315" /></a><p class="wp-caption-text">ketemu klien</p></div>
<p>Bertemu klien berbeda setiap hari pasti seru. Kita bisa dapat teman baru plus <a title="cara sederhana melebarkan jalinan persahabatan" href="http://carahidupkita.blogspot.com/2009/12/cara-cara-sederhana-melebarkan-jalinan.html" target="_blank">memperluas jejaring</a>. Tapi kalau salah satu klien getol banget ngajakin ketemuan terus, sih, jadinya nggak asyik juga.</p>
<p>Kalau nolak, takut tender batal. Buntutnya, kita yang kena semprot atasan. Tapi mendiamkan sikap klien yang intens banget ngejar kita, kok, nggak nyaman juga, ya&#8230;. Biar nggak makin jengah, coba trik ini.</p>
<h2>Bukan CDMA</h2>
<p>Pertemuan pertama dengan klien pasti nggak absen dengan tukar nomor kontak. Sebaiknya hanya berikan nomor telepon dan alamat e-mail kantor, karena tujuannya membahas masalah kerja.</p>
<p>Jika klien minta nomor ponsel, berikan nomor GSM kita yang sudah tersebar. Nggak perlu berikan nomor CDMA yang kita pakai untuk keperluan pribadi. Klien bisa tergoda terus-terus menelepon kita &#8211; pulsa CDMA, kan, murmer.</p>
<p><span id="more-519"></span>Setiap kali menulis e-mail untuk klien, pastikan subjeknya jelas. Maksudnya, sih, agar klien yakin kita hanya membicarakan pekerjaan. Nggak perlu menambah emoticon seperti <img src='http://pelangiku.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  atau <img src='http://pelangiku.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> , meski menanggapi e-mail yang lucu. Dengan begitu, kesannya kita nggak mudah tergoda!</p>
<p>Biasanya rapat dengan klien dilanjutkan makan siang. Tapi tolak saja kalau klien mengajak kita rapat berdua saja saat weekend. Katakan atasan nggak mengizinkan kita bekerja di luar jam kerja. Kalau kita mengiyakan, bukan nggak mungkin klien mengajak lagi.</p>
<h2>Mak Comblang Dadakan</h2>
<div id="attachment_521" class="wp-caption alignright" style="width: 240px"><a href="http://trytostayhealthy.blogspot.com/2010/01/bad-dental-hygiene-effects.html"><img class="size-full wp-image-521" title="mak comblang" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2010/01/mak-comblang.jpg" alt="mak comblang" width="230" height="153" /></a><p class="wp-caption-text">mak comblang</p></div>
<p>Jika klien sebenarnya baik &#8211; tapi kita nggak tertarik &#8211; boleh, tuh, jodohkan dengan teman kita. Caranya, ajak teman ikut makan siang bareng kita dan klien. Kalau mereka cepat akrab, kita juga yang aman, dong.</p>
<h2>Cincin Manis</h2>
<p>Klien biasanya cenderung jadi super ganjen kalau dia tahu kita jomblo. Makanya sebelum bertemu klien, pakai cincin di jari manis kita. Biar saja dia mengira kita sudah bertunangan atau menikah. Kalau nggak mempan, coba, deh, pura-pura menerima telepon dari pacar saat di depan klien. Ucapkan kata-kata mesra agar nyali klien ciut.</p>
<h2>Bos, Mau Curhat &#8230;</h2>
<p>Susah-payah secara halus kita menolak klien, dia masih semangat mengganggu kita, bahkan mengancam tidak meluluskan tender jika kita enggan lunch date dengannya. Kita bisa, kok, mengadu ke atasan.</p>
<p>Ceritakan apa yang sudah dilakukan klien plus tunjukkan buktinya, misalnya SMS-nya yang kecentilan. Paling nggak, atasan kita bisa melaporkan klien ke atasannya langsung untuk menegur klien.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelangiku.com/2010/01/ditaksir-klien/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cemas Melulu, Sih &#8230;</title>
		<link>http://pelangiku.com/2009/11/cemas-melulu-sih/</link>
		<comments>http://pelangiku.com/2009/11/cemas-melulu-sih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Nov 2009 16:47:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelly</dc:creator>
				<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[cemas]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[stress]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelangiku.com/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[Insecure merupakan rasa nggak aman dengan alasan logis, meski kita belum pernah mengalaminya. Misalnya kita diajak ke pesta sama teman baru, kita sudah takut duluan nggak bakal diajak ngobrol orang lain]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_462" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://pelangiku.com/2009/04/tanda-tanda-cowok-lagi-bokek/"><img class="size-full wp-image-462" title="berasa cemas" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2009/11/insecure08.jpg" alt="berasa cemas" width="230" height="283" /></a><p class="wp-caption-text">berasa cemas</p></div>
<p>Melihat ramainya kejahatan yang terjadi belakangan ini, rasanya wajar saja kalau kita kadang-kadang merasa nggak aman. Nggak memakai perhiasan berlebihan, nggak menelepon saat berada di kendaraan umum, sampai meninggalkan kartu kredit di rumah dan membawa uang ngepas ke kantor atau kuliah.</p>
<p>Anehnya, nih, perasaan nggak aman ini nggak hanya kita rasakan saat di tempat umum. Pas divisi kita kedatangan anak baru lulusan luar negeri, kita juga merasa &#8216;terancam&#8217;. Jangan-jangan dia bakal merebut posisi kita, nih! Waktu kenalan dengan teman cewek si dia, kita jadi jatuh pede. Ah, cewek ini bisa banget mengambil pacar kita!</p>
<h2>Panik, Panik, Panik!</h2>
<p>Sering mengalami hal-hal seperti di atas? Perasaan tidak aman yang biasa kita alami ini biasanya disebut <em>insecure</em>, berbeda dengan paranoid.</p>
<p><em><img title="More..." src="http://localhost/wordpress27/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" /><span id="more-461"></span>Insecure</em> merupakan rasa nggak aman dengan alasan logis, meski kita belum pernah mengalaminya. Misalnya kita diajak ke pesta sama teman baru, kita sudah takut duluan nggak bakal diajak ngobrol orang lain. Kalau paranoid biasanya nggak ada alasannya, asal takut saja.</p>
<p>Biasanya penyebab <em>insecure</em> ini karena kita nggak pede dan ragu-ragu sehingga akhirnya jadi nggak nyaman dengan diri sendiri. Hal ini bakal semakin buruk jika kita pernah melihat atau mendengar pengalaman orang lain yang kurang menyenangkan. Kita pun jadi membayangkan akan mengalami hal sama.</p>
<p>Misalnya, kita diceritakan rekan kerja kalau posisinya di kantor pernah disalip anak baru. Begitu kita berkenalan dengan rekan kerja baru, bukannya membimbing, kita malah panik sendiri dengan keberadaannya. Padahal kalau kita pede, mungkin semuanya baik-baik saja.</p>
<h2>Tambah Stress</h2>
<div id="attachment_463" class="wp-caption alignright" style="width: 240px"><a href="http://mimbarjumat.com/archives/310"><img class="size-full wp-image-463" title="makin stress" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2009/11/insecure10.jpg" alt="makin stress" width="230" height="197" /></a><p class="wp-caption-text">makin stress</p></div>
<p>Terbiasa &#8216;memanjakan&#8217; perasaan nggak aman ini, sudah pasti kita rugi: jadi tertekan dan murung. Contohnya saat bekerja di kantor, gara-gara selalu takut dimarahi atasan karena melanggar tenggat waktu, kita memilih mengerjakan semua serba cepat. lya, sih, tenggat waktu terpenuhi, tetapi banyak kesalahan juga karena kita asal selesai!</p>
<p>Pikirkan orang lain setiap kali kita merasa nggak aman. Hasil kerja tim kerja kita di kantor kacau karena sikap kita yang terburu-buru dan ketakutan terus. Orang lain jadi terpengaruh, kan? Mereka bisa ikut-ikutan nggak pede karena kita. Kalau sikap lebih tenang, kerja juga lebih fokus.</p>
<p>Efek buruk lain yang mungkin terjadi ketika kita terus-terusan merasa tidak aman adalah stres berat dan tidak tahu cara mengendalikannya. Akibatnya, daya tahan tubuh bisa menurun dan kita cenderung mengulangi kebiasaan buruk karena dianggap sebagai jalan pintas.</p>
<p>Begitu <a title="macam-macam solusi stress" href="http://pelangiku.com/2009/07/macam-macam-solusi-stress/" target="_blank">stres</a>, kita jadi nggak bisa nahan nafsu makan. Tubuh pun makin gendut dan mudah sakit. Atau kita yang tadinya berhenti <a title="merokok, sengsara dibalik nikmat" href="http://mediasehat.com/serba04.php" target="_blank">merokok</a> jadi merokok lagi &#8211; merusak tubuh, deh.</p>
<h2>Bisa Jadi Positif</h2>
<p>Sebenarnya, nih, jika kita mampu menyikapinya dengan benar, rasa <em>insecure</em> ini bisa berdampak positif. Kita jadi lebih waspada dan mampu meningkatkan kemampuan diri kita.</p>
<p>Bila selama ini kita takut disaingi anak baru, kerja kita seharusnya bisa lebih cermat dan memuaskan. <em>Insecure</em> juga menyiapkan kita menghadapi keadaan kurang baik.</p>
<p>Jika kita takut dimarahi atasan karena merasa kerjaan kita salah, tentu kita bakal menyiapkan alasannya. Nggak shocked lagi, deh, jika atasan benar-benar marah.</p>
<p>Pacu diri kita dengan <em>insecure</em> yang kita rasakan. Kalau dulu kita malas bertemu orang baru karena takut penampilan kita buruk, sekarang tambah pengetahuan kita agar orang lain nggak hanya menilai kita lewat penampilan tapi juga kecerdasan. Nggak perlu malu karena kita dianggap beda oleh orang lain.</p>
<div id="attachment_464" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://miacantik.com/2009/10/29/iga-penyet-atau-iga-bakar-bumbu-rujak/"><img class="size-full wp-image-464" title="berusaha biar makin menarik" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2009/11/insecure05.jpg" alt="berusaha biar makin menarik" width="230" height="175" /></a><p class="wp-caption-text">berusaha biar makin menarik</p></div>
<p>Takut si dia diambil cewek lain? Coba, deh, lihat tipe cewek yang disukai si dia. Mungkin saja selama ini si dia nggak betah dekat kita karena kita yang judes dan nggak mau tahu perasaannya. Kalau kita mau menerimanya menjadi pacar kita, harusnya kita pun mempercayainya. Tempatkan diri kita di posisinya. Nggak nyaman, kan, kalau dicurigai terus?</p>
<p>Coba lihat orang-orang di sekitar kita yang pede dengan dirinya sendiri. Kalau mereka bisa kita pasti bisa, kok. <em>Insecure</em> boleh tapi jangan sampai menutup kesempatan kita untuk lebih baik.</p>
<h2>Curhat Aja Lagi</h2>
<p>Jika kita sulit banget menghilangkan rasa insecure berlebihan dalam diri kita, banyak-banyak, deh, konsultasi dengan orang yang kita percaya seperti pacar atau sahabat. Sikap terbuka dan mau mendengarkan orang lain akan menimbulkan rasa aman dalam diri kita. Paling nggak, saran dan masukan mereka akan menenangkan kita.</p>
<p>Selain itu, penting banget menanamkan rasa percaya pada orang lain agar kita nggak cepat cemas. Dijamin, deh, hidup akan lebih nyaman.</p>
<p><em>Insecure</em> hanya bisa dihilangkan jika ada kemauan berubah dari kita. Salah satu caranya dengan curhat. Mungkin saja teman curhat kita punya pengalaman menarik yang bisa jadi pelajaran. Makanya jangan ragu untuk punya banyak teman. Makin banyak teman tentu kita bakal makin merasa aman, karena memiliki orang-orang yang memperhatikan kita.</p>
<p>Sebaliknya, bila teman kita yang susah banget menghilangkan rasa <em>insecure</em>-nya, kita kudu mengingatkannya. Sebaiknya, sih, ingatkan dengan baik dan jangan judge langsung. Soalnya, nih, kritik yang disampaikan secara kasar justru nggak bakal didengar. Nggak mau, kan, teman kita balik marah dan memusuhi kita&#8230;.</p>
<p>Jika ingin mengubah sikap seseorang, beri contoh kelakuan yang sudah dilakukannya, jelaskan kronologisnya, jangan langsung memarahi. Perlakuan yang baik tentu akan menghasilkan perubahan yang baik juga.</p>
<h2>Senang = Tenang</h2>
<div id="attachment_465" class="wp-caption alignright" style="width: 240px"><a href="http://pelangiku.com/2009/06/bernapas-tak-bebas/"><img class="size-full wp-image-465" title="kita memang oke" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2009/11/memangoke.jpg" alt="kita memang oke" width="230" height="231" /></a><p class="wp-caption-text">kita memang oke</p></div>
<p>Banyak cara yang bisa kita lakukan biar makin pede:</p>
<p><strong>Kita memang oke!<br />
</strong>Pacar punya sejumlah teman cewek keren abis? Nggak usah takut, buktinya si dia tetap menggandeng kita erat-erat saat ketemu mereka dan memperkenalkan kita sebagai pacar tersayangnya.</p>
<p><strong>Terus kembangkan potensi diri<br />
</strong>Stop iri pada rekan kerja yang kita curigai bakal menggantikan posisi kita. Kalau dia jago Bahasa Inggris, ya kita juga harus mau upgrade kemampuan Bahasa Inggris kita juga, dong!</p>
<p><strong>Utamakan positif<br />
</strong>Apalagi saat berada di tempat yang baru. Jika kita sudah keburu merasa nggak aman dan menutup diri, secara nggak langsung orang lain akan merasakan &#8216;penolakan&#8217; kita. Kemungkinan untuk memperluas jejaring jadi buntu, deh&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelangiku.com/2009/11/cemas-melulu-sih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diet si Dompet</title>
		<link>http://pelangiku.com/2009/10/diet-si-dompet/</link>
		<comments>http://pelangiku.com/2009/10/diet-si-dompet/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Oct 2009 17:10:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelly</dc:creator>
				<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelangiku.com/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Gaji naik, punya pekerjaan sampingan, tapi penghasilan kita rasanya masih kurang mencukupi, deh. Boro-boro menabung, pertengahan bulan aja kondisi keuangan sudah di ujung tanduk! Malah nggak jarang kita ngutang ke rekan kerja saat makan siang....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_427" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://mimbarjumat.com/archives/683"><img class="size-full wp-image-427" title="belanja heboh" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2009/10/shopping08.jpg" alt="belanja heboh" width="230" height="316" /></a><p class="wp-caption-text">belanja heboh</p></div>
<p>Gaji naik, punya pekerjaan sampingan, tapi penghasilan kita rasanya masih kurang mencukupi, deh. Boro-boro menabung, pertengahan bulan aja kondisi keuangan sudah di ujung tanduk! Malah nggak jarang kita ngutang ke rekan kerja saat makan siang&#8230;.</p>
<p>Kalau sudah begini, biasanya kita menyalahkan gaji minim sebagai sumber masalah. Kenyataannya, gaji bukan satu-satunya penyebab &#8216;kemiskinan&#8217; kita. Gaji hingga delapan digit pun nggak bakal cukup kalau kita nggak bisa mengontrol gaya hidup.</p>
<p>Daripada mengeluh tanpa membuahkan hasil, lakukan usaha supaya kita nggak terus kehabisan uang. Segera, deh, &#8216;berdiet&#8217; uang. Ssst&#8230; hal-hal yang terkesan sepele ternyata justru dapat menyelamatkan keuangan kita, tuh!</p>
<h2>Tapal Batas Kartu</h2>
<p>Tawaran kartu kredit dari berbagai bank memang menggiurkan. Potongan harga untuk berbelanja di merchant tertentu, gratis satu tiket tiap beli tiket bioskop, hingga bebas biaya tahunan, adalah beberapa contoh fasilitas kartu kredit yang sulit ditolak.</p>
<p>Tapi, bukan berarti kita boleh kalap menerima seluruh tawaran kartu kredit. Sebagai cewek yang baru merintis karier, cukup miliki satu kartu kredit yang fasilitasnya sesuai kebutuhan kita. Pertimbangkan, deh, besarnya bunga yang harus dibayar jika kita terlambat melunasi tagihan. Ogah, kan, menambah pengeluaran sia-sia&#8230;.<br />
<span id="more-426"></span></p>
<h2>Tendang Utang</h2>
<div id="attachment_428" class="wp-caption alignright" style="width: 220px"><a href="http://pelangiku.com/2009/03/arsip-forum-yang-super-konyol/"><img class="size-full wp-image-428" title="terima kartu kredit" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2009/10/kartukredit.jpg" alt="terima kartu kredit" width="210" height="280" /></a><p class="wp-caption-text">terima kartu kredit</p></div>
<p>Telanjur memiliki beberapa kartu kredit dan pusing melihat tagihannya? Jangan panik &#8211; berpikirlah jernih. Kita mungkin nggak bisa membayar langsung seluruh utang, tapi setidaknya, nih, kita mampu membayar jumlah minimum dari masing-masing kartu.</p>
<p>Dahulukanlah membayar kartu kredit dengan bunga terbesar. Dengan begitu, kita terhindar dari membayar bunga &#8211; yang jika ditotal bisa digunakan membeli beberapa pasang sepatu baru! Hingga utang kita benar-benar lunas, usahakan nggak berbelanja dulu menggunakan kartu kredit.</p>
<h2>Teliti Lagi</h2>
<p>Jangan pernah lupa mengecek rekening tagihan kartu kredit. Ada kalanya perusahaan kartu kredit (nggak sengaja) melakukan hal-hal yang dapat membuat jumlah tagihan membengkak. Misalnya, nih, mencetak dua tagihan untul benda yang sama atau menagih bayaran suatu program yang nggak kita ikuti. Nggak cuma itu kelalaian kita seperti lupa bayar tagihan juga bakal merugikan &#8211; utang jadi menumpuk gara-gara bunga, deh!</p>
<h2>&#8216;Bakar Kalori&#8217;</h2>
<p>Sama seperti <a title="nutrisi yang bikin kamu cantik" href="http://pelangiku.com/2009/02/nutrisi-yang-bikin-kamu-cantik/" target="_blank">diet makanan</a>, kita kudu memperhatikan jumlah &#8216;kalori&#8217; yang menghabiskan uang kita. Kumpulin, deh, rekening tagihan barang-barang belanjaan kita tiga bulan terakhir. Bandingkan harga asli belajaan dengan harga yang harus kita bayarkan bila melalui kartu kredit plus bunganya. Perbedaannya pasti cukup besar!</p>
<p>Lebih nyesekin lagi jika baju maupun sepatu yang harganya supermahal itu ternyata jarang kita gunakan. Daripada disia-siakan, mendingan buka garage sale di kantor. Selain bisa balik sebagian modal, lemari pakaian jadi lebih lega&#8230;.</p>
<h2>Hang Out Murmer</h2>
<p>Cewek muda seperti kita memang sedang doyan-doyannya ngumpul bareng teman di mall. Hal ini sebenarnya sah-sah aja, asal nggak keseringan. Sadar nggak, sih, kalau kita bisa menghabiskan uang hingga lebih dari Rp 100 ribu sekali hang out? Makan di kafe maupun nonton bioskop, kan, butuh biaya nggak sedikit &#8211; belum lagi uang bensinnya.</p>
<p>Jadi kurangi, deh, intensitas kita bersantai di mall. Jika tadinya tiap minggu kita ngumpul, mendingan kurangi jadi dua minggu atau sebulan sekali. Kalau tetap pengen ngumpul tiap minggu, jadikan rumah kita atau <a title="gantengnya sahabatku" href="http://pelangiku.com/2009/05/gantengnya-sahabatku/" target="_blank">sahabat</a> sebagai tempat pertemuan. Nonton DVD atau olahraga bareng nggak kalah seru, kok!</p>
<h2>Berburu Diskon</h2>
<p>Salah satu godaan terbesar dalam hidup kita adalah belan-ja. Ngaku, deh, kita pasti ingin menjadikan baju dan aksesori di mall sebagai koleksi. Kalau nggak berpikir menggunakan logika, sih, kita bakal menuruti nafsu tanpa mempersoalkan risiko kehabisan uang di pertengahan bulan.</p>
<p>Tapi nggak mau, dong, mengalami masa suram seperti itu&#8230;. Coba, deh, mengerem kebiasaan belanja dan menundanya hingga butik favorit mengadakan potongan harga besar-besaran. Nggak ada salahnya juga, tuh, membeli baju di garage sale. Walaupun bekas, biasanya kualitas baju yang dijual masih bagus dan tentunya harganya miring.</p>
<h2>Ojek Kenangan</h2>
<div id="attachment_429" class="wp-caption alignleft" style="width: 230px"><a href="http://pelangiku.com/2009/05/banting-setir-saja/"><img class="size-full wp-image-429" title="ojek" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2009/10/ojek.jpg" alt="ojek" width="220" height="162" /></a><p class="wp-caption-text">ojek</p></div>
<p>Tinggalkan sifat manja dan pemalas dalam kehidupan sehari-hari. Kalau biasanya pergi dari tempat kos ke kantor memanfaatkan ojek, mulai sekarang kita kudu rajin menggunakan kedua kaki alias berjalan kaki. Jadikan jumlah uang transport yang kita hemat sebagai motivator!</p>
<p>Hal ini juga berlaku dalam makanan. Supaya irit, manfaatkan menu makanan gratis di kantin kantor. Boleh juga, tuh, kita membawa bekal dari rumah &#8211; bisa tetap makan siang bersama rekan lain tanpa perlu keluar uang, hi hi hi&#8230;.</p>
<h2>Berani Investasi</h2>
<p>Masih sulit juga menjalankan diet uang walau sudah berusaha mati-matian? Artinya kita kudu berinvestasi! Saat ini jenis investasi yang ditawarkan beragam, baik oleh bank maupun oleh perusahaan asuransi. Yang penting, nih, kita kudu rela menyingkirkan setidaknya 10% dari penghasilan kita untuk investasi.</p>
<p>Rajin-rajin cari informasi ke bank, perusahaan asuransi, maupun teman yang berpengalaman untuk menentukan jenis investasi yang cocok untuk kita. Hasilnya memang belum bisa kita rasakan sekarang, tapi beberapa tahun mendatang kita bakal menikmatinya, tuh!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelangiku.com/2009/10/diet-si-dompet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau Hobi Jadi Profesi</title>
		<link>http://pelangiku.com/2009/08/kalau-hobi-jadi-profesi/</link>
		<comments>http://pelangiku.com/2009/08/kalau-hobi-jadi-profesi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Aug 2009 01:01:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelly</dc:creator>
				<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[hobi]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[penghasilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelangiku.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Dibayar untuk mengerjakan apa yang kita suka? Mau banget! Some peoples have all the luck. Kuliah di jurusan pilihan, di kampus favorit pula. Begitu lulus langsung kerja di bidang yang diinginkan. Sebenarnya kita juga bisa jadi orang yang beruntung seperti itu. Jadikan hobi sebagai profesi!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_342" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://miacantik.com/bisnis-cerdas-rumahan-a-la-dbc-network/"><img class="size-full wp-image-342" title="kerja di rumah" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2009/08/work-at-home.jpg" alt="kerja di rumah" width="230" height="163" /></a><p class="wp-caption-text">kerja di rumah</p></div>
<p>Dibayar untuk mengerjakan apa yang kita suka? Mau banget! <em>Some peoples have all the luck</em>. Kuliah di jurusan pilihan, di kampus favorit pula. Begitu lulus langsung kerja di bidang yang diinginkan. Sebenarnya kita juga bisa jadi orang yang beruntung seperti itu. Jadikan hobi sebagai profesi!</p>
<h2>Komersial, Nih</h2>
<p>Bukan mustahil, kok, menjadikan hobi sebagai sumber penghasilan kita, seperti jadi penyanyi pro karena senang menyanyi atau punya show kuliner sendiri karena senang masak. Tetapi itu memang nggak gampang. Ada beberapa hal yang perlu kita pahami sebelum melaksanakan niat ini.</p>
<p>Hal pertama adalah melihat peluang komersial dari hobi kita. Nggak semua hobi dapat menghasilkan sesuatu yang bernilai jual. Hobi yang bisa dijadikan profesi adalah hobi yang bisa jadi sumber bisnis. Contohnya fotografi atau kerajinan tangan yang menghasilkan produk seperti hiasan rambut, kotak serbaguna, dan masih banyak lagi.</p>
<h2>Mau Mulai?</h2>
<p>Biasanya nih, kendala terbesar kita adalah cara memulainya. Mendengar banyak orang jadi tajir karena hobi, sih, sering. Tapi untuk mengaplikasikan contoh tersebut pada diri sendiri rasanya susah banget. Kita bisa mulai dari teman-teman dekat. Contohnya, hobi kita membuat kartu ucapan.</p>
<p>Mula-mula, kita bisa menawarkannya pada teman nongkrong atau saudara. Jika laris manis, itu berarti hobi kita punya peluang bisnis. Mulai, deh, titipin karya kita ke tempat yang lebih umum seperti toko atau bikin website untuk jualan secara online.</p>
<p><span id="more-340"></span>Bergabung dalam komunitas yang memiliki kesamaan hobi akan sangat membantu. Manfaatkan milis-milis hobi, dong! Bukan hanya memperluas pangsa pasar, di sini kita juga bisa sharing mengenai peluang bisnis dari hobi kita itu. Peluang mendapat rekan bisnis pun terbuka lebar. Semakin banyak komunitas, semakin baik.</p>
<h2>Patut Dilirik</h2>
<p>Di zaman sekarang, kemajuan teknologi benar-benar membawa berkah<br />
buat yang jeli melihat peluang bisnis. Kita bisa mencoba memasarkan<br />
barang-barang hasil produksi hobi kita di dunia maya. Saat ini, nggak sedikit orang yang &#8216;jualan&#8217; di website atau blog pribadi. Proses transaksi yang nggak ribet dan bisa dilakukan sambil kerja atau sambil santai di rumah.</p>
<h2>Kerja Kantoran Jadi Pilihan.</h2>
<p>Penting diingat bahwa dalam bisnis pasti ada saja kendalanya. Nggak sedikit hobi yang masih terlalu berisiko untuk langsung dijadikan profesi utama. Apalagi kalau hobi kita itu sangat spesifik seperti membuat pergamano, paper tole atau art clay. Biar sukses memasarkannya, lagi-lagi diperlukan jaringan yang luas.</p>
<p>Jika kita nggak beruntung menjadikan hobi sebagai bisnis, carilah pekerjaan yang bisa menyalurkan hobi kita. Misalnya, kita suka banget menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan di blog atau buku harian. Kenapa nggak melamar jadi reporter di majalah? Apalagi jadi penulis nggak perlu pendidikan khusus. Yang penting memang suka dan tulisannya enak dibaca!</p>
<p>Demikian juga halnya dengan hobi desain, kita bisa bergabung dengan tim kreatif di perusahaan advertising atau majalah. Hobi mengutak-atik komputer juga bisa kita salurkan dengan gabung di divisi Teknologi Informasi. Selain hobi tersalurkan, kita mendapatkan bayaran untuk hasil kerja kita. Asyik!</p>
<h2>Harus Punya Juga</h2>
<p>Menjadikan hobi sebagai profesi juga harus didukung oleh hal-hal berikut:</p>
<ul>
<li><strong>Tekun dan rajin mengasah</strong><br />
Senang saja nggak cukup untuk jadi alasan memulai bisnis dari hobi. Kita harus menjadi ahli agar mampu bersaing dan bertahan. Makanya perlu banget, tuh, terus-menerus mengasah kemampuan. Mengorbankan waktu, dana, ikut pelatihan, rajin mencari informasi di berbagai media adalah beberapa cara untuk mengoptimalkan hobi kita.</li>
<li><strong>Cerdas kelola emosi</strong><br />
Keunggulan menjalani hobi sebagai bisnis, kita memiliki &#8216;jiwa&#8217; pada pekerjaan itu. Tetapi menjalani hobi sebagai kesenangan tekanannya akan berbeda begitu dijadikan sumber penghasilan. Kalau semangat dan antusiasme tidak kita kelola terus-menerus, semangat bisa kendor ketika menghadapi masalah. Dibutuhkan komitmen kuat agar kita juga konsisten menjalani profesi ini.</li>
<li><strong>Perluas ilmu</strong><br />
Agar bisnis berjalan lancar, nggak ada salahnya mempelajari ilmu<br />
lain yang mendukung, seperti ilmu manajemen dan marketing. Dengan mempelajari keduanya, kita punya pegangan untuk menjalankan bisnis dengan baik. lalas sekolah lagi? Banyak membaca, ikut pelatihan, atau bertanya kepada teman dengan latar belakang pendidikan tersebut cukup membantu, kok!</li>
</ul>
<h2>Ramai-ramai Jadi Entrepreneur</h2>
<p>Kalau memang kita nggak suka bekerja dengan aturan dan waktu tetap seperti yang diterapkan pada perusahaan-perusahaan, bisa saja memilih untuk memulai bisnis sendiri. Sebelum mulai usaha sendiri pastikan dulu kita punya:</p>
<ul>
<li><strong>Modal</strong><br />
Pertama sih, modal uang. Kita perlu manganalisis seberapa besar modal yang kita butuhkan sebelum memulai bisnis. Pastikan kita tahu keadaan pasar dan gambaran kasar pengeluaran kita.</li>
<li><strong>Peluang</strong><br />
Perlu diperhatikan juga besarnya peluang untuk memasarkan produk. Karena itu, kita juga perlu melihat daya beli masyarakat akan produk kita. Jangan pakai bahan dasar yang terlalu mahal untuk menekan biaya produksi, sehingga produk kita bisa dijual dengan harga terjangkau.</li>
<li><strong>Keberuntungan</strong><br />
Faktor terakhir, tidak dapat dipungkiri, adalah faktor yang bisa mengubah seluruh keadaan. Kalau belum rezeki, tabah, ya&#8230;.</li>
</ul>
<h2>Anti Gagal</h2>
<p>Namanya juga usaha. Menemui jalan buntu atau kegagalan adalah hal lumrah, tapi nggak lantas kita melulu terpuruk, dong. Praktekkan cara ini ketika kita menemui kegagalan!</p>
<ul>
<li><strong>Evaluasi Ulang</strong><br />
Coba ingat-ingat dan diurutkan bagaimana cara kita menjalankan bisnis itu. Cari tahu kelemahan dan kesalahan kita ada di mana, agar jadi pelajaran dan nggak kita ulangi lagi.</li>
<li><strong>Jangan Diduain</strong><br />
Kalau memang niat serius di usaha sendiri (entrepreneui) sebaiknya jangan menjalani dua pekerjaan sekaligus kerja kantoran dan toko. Mengatur produksi, pemasaran, dan penjualan nggak akan beres kalau pikiran kita terbagi dua, beda kalau kita punya partner terpercaya.</li>
<li><strong>Lebih Giat Lagi</strong><br />
Nggak hanya giat memproduksi barang-barang baru, tetapi juga cara memasarkannya! Sebatas mengandalkan saudara atau teman dekat sebagai pelanggan kita bikin usaha kita berjalan lambat. Berani ikutan bazar (jangan lupa bikin kartu nama yang keren dan eyecatching!) atau pameran lainnya. Kalau harga sewa stan terlalu mahal, cari pengusaha kecil lain (yang bidang jualannya beda) buat patungan.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelangiku.com/2009/08/kalau-hobi-jadi-profesi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konsen donk &#8230;</title>
		<link>http://pelangiku.com/2009/06/konsen-donk/</link>
		<comments>http://pelangiku.com/2009/06/konsen-donk/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 13:27:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelly</dc:creator>
				<category><![CDATA[kerja]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[kantor]]></category>
		<category><![CDATA[otak]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelangiku.com/?p=303</guid>
		<description><![CDATA[Fisik kita, sih, berada di depan komputer di kantor. Tapi pikiran kita melayang dan bercabang ke segala arah: mulai dari uang kos yang belum dibayar, sampai janjian pergi dengan pacar di akhir minggu.
Sulit berkonsentrasi adalah masalah yang paling sering dihadapi karyawan. Nggak jarang, tuh, pekerjaan yang seharusnya bisa selesai dalam beberapa jam jadi molor karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_306" class="wp-caption alignleft" style="width: 230px"><img class="size-full wp-image-306" title="konsentrasi" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2009/06/konsentrasi01.jpg" alt="konsentrasi" width="220" height="146" /><p class="wp-caption-text">konsentrasi</p></div>
<p>Fisik kita, sih, berada di depan komputer di kantor. Tapi pikiran kita melayang dan bercabang ke segala arah: mulai dari uang kos yang belum dibayar, sampai janjian pergi dengan pacar di akhir minggu.</p>
<p>Sulit berkonsentrasi adalah masalah yang paling sering dihadapi karyawan. Nggak jarang, tuh, pekerjaan yang seharusnya bisa selesai dalam beberapa jam jadi molor karena kita nggak bisa konsentrasi.</p>
<h2>Nggak terlatih</h2>
<p>Dari rumah kita sudah bertekad menyelesaikan beberapa tugas dalam satu hari. Prakteknya, hanya satu dari sekian target yang bisa selesai. Hal ini terjadi karena kita kurang terlatih memilah dan memilih hal-hal yang kudu kita perhatikan dalam jangka waktu tertentu.</p>
<p>Konsentrasi adalah pemusatan kesadaran terhadap suatu hal dalam situasi tertentu. Karena nggak membiasakan diri fokus ke satu hal, kita jadi sulit berkonsentrasi. Penyebab buyarnya konsentrasi bermacam-macam, baik dari diri sendiri maupun faktor luar.</p>
<p>Tingkat konsentrasi yang dibutuhkan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaan beragam, tergantung jenis tugasnya. Tapi kita bisa, kok, meningkatkan daya konsentrasi saat bekerja. Yang penting, nih, kita punya tekad kuat dan mau berusaha!</p>
<p><span id="more-303"></span>Perhatian yang terpusat tentu memberikan hasil yang lebih baik dari segi kualitas dan kecepatan kerja kita. Efeknya, jumlah pekerjaan yang dihasilkan pun lebih banyak.</p>
<h2>Siapkan dulu &#8230;</h2>
<p>Sebelum mengerjakan satu tugas, lakukan sejumlah persiapan ini biar konsentrasi kerja kita makin maksimal!</p>
<ol>
<li>Susun dan tentukan deadline semua tugas.</li>
<li>Bikin daftar itu berdasarkan prioritas, baik dari segi kepentingannya hingga batas waktu penyelesaiannya.</li>
<li>Kenali kebiasaan kita dalam bekerja. Jika kita lebih semangat bekerja di pagi hari, sebaiknya datang ke kantor sepagi mungkin sehingga bisa bekerja lebih awal. Merasa lebih efektif bekerja setelah makan siang? Siap-siap menanggung risiko pulang lebih sore, tuh!</li>
<li>Kondisi fisik tetap harus diperhatikan. Pastikan kita sarapan sebelum berangkat bekerja.</li>
<li>Atur tempat kerja kita. Rapikan kertas-kertas menumpuk sehingga meja terlihat rapi. Dijamin, deh, meja rapi akan bikin kita makin semangat mengerjakan tugas.</li>
<li>Bereskan &#8216;tugas-tugas&#8217; luar kantor (seperti membayar kartu kredit atau membeli hadiah untuk keponakan) di luar jam kantor.</li>
</ol>
<h2>Fokus, yuk!</h2>
<p>Jika sudah melakukan persiapan, kita tinggal mengerjakan tugas yang sudah kita tetapkan. Intip cara-cara mengatasinya.</p>
<ul>
<li>
<h2>Bla &#8230; bla &#8230; bla &#8230;</h2>
<p>Di kantor pasti ada suara-suara yang bisa membuyarkan konsentrasi kita, seperti atasan yang berteriak menagih hasil laporan hingga rekan kerja yang bergosip.<br />
<strong>Tip : </strong>wajar kalau ada gangguan suara di kantor. Jika suara-suara sangat mengganggu konsentrasi, siasati dengan memasang musik (tentunya gunakan earphone, dong!). Putar musik yang bisa membangkitkan semangat kerja kita. Lebih asyik, sih, musik yang upbeat</li>
<li>
<h2>Brrr &#8230; brrr &#8230;</h2>
<p>Hampir semua kantor sudah menggunakan fasilitas pendingin ruangan.  Sebalnya, nih, suhu ruangan kantor kita dingin ba-nget sehingga malah bikin kita meringis kedinginan dan nggak bekerja.<br />
<strong>Tip :</strong> cukup banyak orang yang nggak bisa berkonsentrasi karena suhu yang terlalu dingin atau panas. Aturlah suhu ruangan sehingga nggak bikin kita kedinginan atau kepanasan. Jika tidak memung-kinkan, gunakan pakaian yang sesuai suhu ruangan.</li>
<li>
<h2>Kring &#8230; kring &#8230;</h2>
<p>Hampir 10 menit sekali ponsel kita berbunyi. Masalahnya orang yang menelepon kita nggak ada hubungannya dengan kantor, melainkan teman-teman kita. Hasilnya kita lebih banyak curhat daripada bekerja, bagaimana bisa konsentrasi kerja?<br />
<strong>Tip :</strong> nyalakan fitur &#8216;Silent&#8217; di ponsel saat bekerja. Heningkan ponsel saat sedang menyusun draft pertama laporan. Saat draft kasar sudah jadi dan kita tinggal merapikannya, aktifkan kembali, nada dering ponsel kita. Yang penting, kita sudah melewati tahap pembuatan konsep awal yang perlu daya konsetrasi tinggi.</li>
<li>
<h2>Kriuk !</h2>
<p>Sudah sarapan tapi perut masih berteriak kelaparan menjelang siang. Bukannya memikirkan hasil laporan, di otak kita malah terbayang makanan-makanan enak. Aduh, lapaaar&#8230;.<br />
<strong>Tip</strong> : kalau harus konsentrasi bekerja, bukan berarti kita nggak boleh istirahat sejenak. Kalau perut sudah benar-benar harus menerima asupanan makanan, rehat lima menit, deh, untuk ngemil pengganjal hingga makan siang. Kalau sudah kenyang, kita akan lebih mudah fokus lagi ke pekerjaan.</li>
<li>
<h2>Bosaaaaaaan &#8230; !</h2>
<p>Tiba-tiba kita merasa bosan setengah mati — sepertinya tiap hari melakukan pekerjaan yang sama. Kita jadi malas dan nggak fokus mengerjakannya&#8230;.<br />
<strong>Tip : </strong>salah satu cara menumbuhkan semangat bekerja kembali adalah dengan menemukan motivasi kita. Ingat-ingat, deh, target kita tahun ini, seperti berjalan-jalan ke luar negeri (* mungkin gak ya ? *). Demi mendapatkan uang (syukur-syukur plus promosi) buat bersenang-senang merupakan motivasi ampuh biar kita lebih mudah konsentrasi bekerja!</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelangiku.com/2009/06/konsen-donk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Banting Setir Saja!</title>
		<link>http://pelangiku.com/2009/05/banting-setir-saja/</link>
		<comments>http://pelangiku.com/2009/05/banting-setir-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 00:59:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kelly</dc:creator>
				<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[karir]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>
		<category><![CDATA[penghasilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pelangiku.com/?p=235</guid>
		<description><![CDATA[Maunya, nih, kita bertahan di perusahaan tempat kita bekerja dalam waktu cukup lama. Kita bakal makin ahli, nama baik kita juga terjaga. Tapi ada kalanya kita sebaiknya 'menyerah' dan banting setir bekerja di bidang yang sama sekali baru]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_237" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://miacantik/dbc"><img class="size-full wp-image-237" title="uturn03" src="http://pelangiku.com/wp-content/uploads/2009/05/uturn03.jpg" alt="balik arah" width="230" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">balik arah</p></div>
<p>Maunya, nih, kita bertahan di perusahaan tempat kita bekerja dalam waktu cukup lama. Kita bakal makin ahli, nama baik kita juga terjaga. Tapi ada kalanya kita sebaiknya &#8216;menyerah&#8217; dan banting setir bekerja di bidang yang sama sekali baru, seperti kalau:</p>
<h2>Karier mandek</h2>
<p>Menduduki posisi yang sama setelah tiga atau empat tahun bekerja tentu bukan hal menyenangkan. Apalagi kalau hal ini terjadi bukan karena kita yang nggak kompeten, tapi karena banyaknya senior yang masih &#8216;betah&#8217; menduduki posisi mereka. Kelamaan nungguin &#8216;urut kacang&#8217;? Boleh dilirik, tuh, peluang profesi di bidang lain yang memiliki jenjang karier lebih jelas dan fair!</p>
<h2>Tak ada gairah</h2>
<p>Nggak sedikit yang berpendapat kalau menjalankan suatu pekerjaan, tuh, mirip pacaran. Saat percikan-percikan cinta sudah nggak terasa lagi, kita mungkin kudu mengambil keputusan berat yaitu putus. Begitu juga dalam hal karier. Setelah sukses melewati masa dua tahun yang (dulu) penuh tantangan, sudah saatnya bagi kita untuk menjajal bidang lain yang lebih menantang.<br />
<span id="more-235"></span></p>
<h2>Beda banget</h2>
<p>Berkeluh kesah tiap hari mengenai masalah pskerjaan merupakan salah satu tanda kalau kita nggak cocok dengan pekerjaan tersebut. Nggak usah memaksakan diri untuk terus bekerja sebagai staf administrasi kalau kita pecicilan alias nggak bisa diam. Mendingan asah &#8216;bakat&#8217; kita di bidang pekerjaan lain yang lebih dinamis, seperti jurnalistik, presenter atau copy writer</p>
<h2>Penghasilan minim</h2>
<p>Harus diakui kalau gaji adalah motivator kuat saat kita bekerja. Nggak asyik kan, kalau kita mengerjakan tugas kantor asal-asalan karena gaji terlalu minim? Jika kita merasa mampu dan memiliki modal (kemampuan) untuk mengerjakan ienis pekerjaan lain yang bergaji lebih besar, kenapa nggak dicoba?</p>
<h2>Memberi pengaruh negatif</h2>
<p>Pekerjaan yang lebih banyak memberikan pengaruh negatif pada diri kita nggak patut dipertahankan. Nggak usah ragu-ragu, deh, untuk banting setir jika orang-orang dari bidang pekerjaan kita hobi mengonsumsi narkoba atau memiliki atasan yang galaknya udah engga banget.</p>
<p>Bagaimanapun nyawa dan keselamatan merupakan prioritas utama, tuh&#8230;. Buat apa penghasilan besar kalau hati kita selalu merasa nggak nyaman dan tenang?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pelangiku.com/2009/05/banting-setir-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

