Pesawat jatuh, kereta api anjlok dan keluar dari rel, bus masuk jurang, kapal laut tenggelam… rasanya, nih, telinga kita makin ‘terbiasa’ dengan banyaknya berita kecelakaan transportasi. Yang menyedihkan, sudah banyak jatuh korban luka ringan sampai meninggal, kondisi transportasi di Indonesia tampaknya belum juga menunjukkan perbaikan.
Nggak hanya ancaman keselamatan, kita sebagai penumpang sering kali merasa tidak nyaman saat menggunakan alat transportasi umum. Sopir ugal-ugalan dan ngetem seenaknya saja, interior bus/angkot yang nggak terawat, sampai pengemis yang setengah menodong bikin kita makin nggak betah (tapi terpaksa) menggunakan fasilitas ini.
Jadi membandingkan, nih, kapan, ya kita bisa menikmati kereta cepat atau bus yang bersih, tepat waktu, dan aman seperti negara maju?
Kenyamanan Diabaikan
Mengurai masalah transportasi ibarat mengurai benang kusut. Soalnya ada banyak pihak yang berkepentingan dalam masalah ini: pemerintah, operator (perusahaan pemilik bus, maskapai penerbangan), pengelola (bandara, terminal), hingga masyarakat sebagai pengguna.
Sebagai konsumen, kita, sih, pengen mendapatkan hak dasar kita yaitu keselamatan, keamanan, dan kenyamanan. Dari berbagai kasus, nggak dipungkiri jika ada sejumlah operator yang mengesampingkan tiga unsur tersebut demi mendapatkan keuntungan bisnis maksimal. Contoh gampangnya: asap yang dikeluarkan dari knalpot kendaraan umum jarang banget ada yang bersih – yang ada malah hitam dan menyumbang polusi ke udara!
Setoran Dulu, Nih…
Bisa jadi, kondisi nggak karuan ini terjadi sebagai dampak atas sistem setoran yang diterapkan. Sistem setoran mewajibkan sopir dan kenek untuk membayar sejumlah uang atas pekerjaannya menjalankan armada transportasi. Tentu saja, ini memberi beban pada sopir. Karena jika setoran kurang, maka sopirlah yang harus menanggung kekurangannya.
Dengan sistem semacam ini, nggak heran jika sopir membawa angkot atau bus secara ugal-ugalan. Soalnya, mereka harus berkompetisi dengan armada sejenis untuk mendapat penumpang dan laba sebanyak-banyaknya, sehingga akhirnya nggak mempedulikan keselamatan maupun kenyamanan penumpang.
Mau mengganti sistem setoran dengan sistem gaji? Nggak semudah itu. Perusahaan tentu berusaha mencari untung dengan meminimalkan risiko rugi karena dengan setoran mereka sudah mendapatkan pemasukan lebih pasti.
Peran Kita
Jangan cuma bisa protes terhadap kondisi angkutan umum. Introspeksi juga, dong, siapa tahu kita ikut menyumbang peranan terhadap ketidaknyamanan bertransportasi. Kita menyetop bus atau angkot di sembarang tempat, ikutan buang sampah di bus, atau nekat masuk ke bus yang sudah penuh. Kalau sudah begini, mana nyamannya….
Sebagai pengguna kendaraan pribadi, kita bisa dianggap sebagai ‘penyumbang’ ketidaknyamanan pengguna alat transportasi umum. Daripada macet di jalur biasa, kita beralih ke jalur khusus bus yang kosong melompong. Akhirnya? Makin macet, deh! Selama kita masih nggak disiplin, sampai kapan pun kita nggak akan pernah punya transportasi yang bisa diandalkan.
Aman Di Jalan
Saat naik kendaraan umum, sayangnya saat ini kita nggak bisa mengandalkan sopir atau kenek untuk menjaga keamanan. Biar nggak jadi korban kejahatan, jangan:
- Menerima makanan/minuman dari orang asing.
Takutnya, nih, makanan/minuman sudah diberi obat bius/tidur yang membuat kita kehilangan kesadaran, sehingga pelaku bebas mengambil barang kita. - Meletakkan ponsel di saku belakang celana.
Dalam kondisi berdesak-desakan, ponsel kita akan mudah berpindah tangan ke pencopet. - Menghitung uang yang baru aja kita ambil dari ATM.
Meski tadinya nggak ada niat merampok, bisa jadi pelaku berubah pikiran setelah melihat kita memiliki uang tunai dalam jumlah banyak. - Berbusana terlalu seksi.
Kita bakal repot sendiri menghadapi tatapan, lirikan, bahkan sentuhan kurang ajar dari penumpang cowok yang usil. - Memakai tas tanpa restleting.
Ini, sih, sama aja memberi kesempatan emas kepada pelaku kejahatan untuk merogoh barang-barang kita.
Taksi!
Naik taksi bakal lebih aman dan nyaman jika:
- Pesan via telepon
Dibandingkan menyetop di jalan, cara ini jauh lebih aman- terutama di malam hari. Dengan sistem komputerisasi, semua data akan terekam, mulai dari nomor taksi, nama sopir, hingga rute. Jika ada barang yang ketinggalan, melacaknya juga lebih gampang. - Perhatikan nama armada
Jangan memilih taksi hanya berdasarkan warna. Perhatikan nama armada di sisi kendaraan dan lampu atap. Cek nama sopir, nomor identitas, dan foto di dashboard. Kita butuh informasi ini untuk melapor kepada perusahaan taksi jika ada masalah. - Pakai argo
Pastikan sopir menggunakan argo. Jika sopir menolak, cari taksi lain. Soalnya, nih, harga yang dipasang biasanya mencapai 2-3 kali lipat dari yang seharusnya. - Armada hotel
Jika di dekat tempat kita menunggu taksi ada hotel berbintang, lebih
baik kita naik dari sana. Biasanya, hotel menyiapkan armada taksi
yang terpercaya. - Tolak tawaran
Di bandara, terminal, atau stasiun, jangan pernah menerima tawaran
transportasi dari orang yang mendekati kita sambil menawarkan sopir yang siap mengantar ke mana pun. Biasanya, mereka mengoperasikan transportasi nggak resmi yang keamanannya patut dipertanyakan. - (Must) judge by its cover
Khusus taksi, pepatah never judge a book by its cover tidak berlaku.
Penampilan sopir taksi mencerminkan layanan armadanya. Di armada taksi profesional, sopir akan bertingkah laku baik, rambut rapi, memakai seragam dan sepatu. - Tolooong!
Jika intuisi kita menyatakan ada yang nggak beres, minta sopir memberhentikan taksi di pinggir jalan yang cukup ramai. Jika sopir menolak dan malah mempercepat laju kendaraan, pecahkan kaca dan teriak minta tolong.





barusan hari ini aku numpang angkot yg sopirnya mabok langsung aku turun grakk….
waks…, parah banget tuh sopir!
berdoa sebelum keluar rumah semoga kitanya selamat dan tidak terjadi yang macam-macam di perjalanan
yup, tidak ada kekuatan kecuali dari Tuhan
Semoga segera lebih baik, bisa….
Amiiiinnn
Banyak hal yang membuat buruk image dan servis transportasi umum, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta. Salah satunya adalah kedisiplinan pengelola dan pengguna. Pengelola sering mengutamakan keuntungan dengan mengabaikan keamanan dan kenyamanan penumpang. Seharusnya, hal ini ndak boleh terjadi terutama transportasi umum yang dikelola pemerintah.
Sementara dari faktor pengguna/penumpang, saya rasa tulisan anda sudah cukup menggambarkannya.
Salam..
secara singkatnya memang begitu. Banyak hal yang musti kita perbaiki, terutama soal angkutan umum. Sebagai sarana yang bisa mengurangi polusi maupun beban subsidi BBM, seharusnya bisa diusahakan supaya lebih nyaman sehingga lebih menarik untuk dimanfaatkan.
buruknya transportasi umum membuat orng lebih memilih kendaraan pribadi..
coba kl transpotari umumnya bagus, say sih mau2 aja naik
iya , gak tau kapan ya sebagai konsumen hak kita dihormati dgn pelayanan transportasi yang aman dan nyaman
siapa yg mau disalahkan?
pemda setempatkah? para sopir kah? atau pemilik angkot kah?
semuanya wajib bekerja sam, demi pelayanan yg pantas utk para pengguna jasaa ini……..
salam
wah .. itu orang gak takut jatuh ya …