Diputusin pacar? Makan. Tegang ngadepin sidang skripsi? Makan lagi. Bete dimarahi bos? Makan juga. Kok, bisa, sih?
Makan memang salah satu kebutuhan biologis manusia yang utama. Nggak heran dalam sehari kita membutuhkan setidaknya tiga kali makan besar, plus ngemil-ngemil. Kalau memang kita makan untuk memenuhi kebutuhan gizi (dan perut), sih, nggak apa-apa, Tapi apa jadinya kalau kita makan gara-gara bad mood?
Cari Nyaman
Bayangkan saat pekerjaan sedang menumpuk, si dia tiba-tiba telepon untuk membatalkan janji kencan akhir minggu ini. Rencana bersantai berdua yang sudah dibayangkan langsung hancur berantakan dan konsentrasi kerja hilang. Terpaksa, deh, lembur sampai malam. Bete? Jelas. Dan akhirnya, tiga potong gorengan dan sebatang coklat jadi ‘pelarian’ kita.
Saat mengalami stres kita bakal berusaha menekan dampak emosi yang nggak nyaman. Dan jika makan jadi usaha kita menekan stres, jangan-jangan kita termasuk emotional eater!
Emotional eater adalah perilaku makan yang ditampilkan individu sebagai reaksi atas perasaan negatif dari stres yang dialaminya. Jadi kita makan bukan karena rasa lapar, tapi karena perasaan nggak nyaman akibat mengalami situasi yang tidak diinginkan.
Jadi, banyak makan saat stres bukan sekadar teori. Studi ilmiah menunjukkan, 75% perilaku makan berlebih (overeating) disebabkan oleh alasan emosional.
Kenali Tandanya
Selalu menimbun makanan di meja kerja atau kamar? Jangan panik dulu – belum tentu kita termasuk emotional eater. Mungkin saja kita butuh makan banyak karena aktivitas fisik padat. Coba, deh, jawab dulu pertanyaan-pertanyaan berikut:
- Apakah kita sering makan makanan berkalori tinggi?
- Apakah kita nggak bisa lepas dari makanan ketika mengalami kondisi emosional tidak nyaman?
- Apakah kita menganggap makanan berkalori tinggi sebagai ‘hadiah’ setelah melalui saat sulit?
- Apakah kita merasa stres, marah dan kesal ketika selesai makan?
- Apakah kita sering makan tanpa menyadari alasan kita makan? Misalnya baru saja selesai makan siang namun keinginan untuk makan tetap terus ada walaupun sebenarnya kita nggak lapar.
Jika kita menjawab “ya” pada lima pertanyaan tadi, bisa jadi kita memang makan untuk mendapatkan rasa nyaman. Dan inilah ‘cikal’ emotional eater. Makanan berkalori dan berlemak tinggi memang memiliki stress reducer lebih tinggi. Nggak heran jenis makanan ini jadi pilihan kita saat butuh rasa nyaman.
Mulai sekarang, coba perhatikan, deh, kebiasaan kita saat stres. Kalau cokelat, es krim, dan cake selalu jadi teman setia saat stres, hati-hati!
Akibatnya, nih …
Sebenarnya, makan untuk mendapatkan rasa nyaman bukan hal buruk, kok. Soalnya ini salah satu cara tubuh kita menyesuaikan diri ketika mengalami hal nggak menyenangkan. Tapi perilaku ini jika nggak dikontrol bisa berakhir buruk.
Alasan emotional eater makan adalah untuk mendapatkan kepuasan emosional. Pada akhirnya, kita bakal merasa bersalah atas perilaku makan berlebih ini karena bukan kebutuhan perut yang kita penuhi
Jika setiap kali bete kita selalu makan, lama-lama tubuh akan terbiasa, dan bakal menuntut makan saat stres menyerang. Setelah itu, naiknya berat badan nggak bisa dihindari.
Akibatnya, kita tambah stres dan bisa muncul perasaan rendah diri, malu, dan ketidakstabilan emosi. Kalau dibiarkan dalam jangka waktu lama, obesitas pun bisa menyerang. Kalau sudah begini, masalah bisa tambah runyam karena berbagai penyakit mengintai kita!
Segera Atasi
Langkah pertama untuk mengatasi masalah emotional eater adalah mengenali emosi yang kita alami. Buat daftar hal-hal favorit dan yang bukan, sehingga kita bisa tahu reaksi yang kita keluarkan saat mengalami hal-hal itu.
Misalnya, saat stres akibat pekerjaan, kita cenderung melarikan diri ke pantry untuk melahap sepotong cake. Atau jika sedang berantem dengan si dia, setengah lusin donat selalu ada di daftar belanja kita.
Setelah itu, kenali kapan waktu kita merasa lapar. Jika kita sudah memiliki jadwal tetap untuk sarapan, makan siang, dan makan malam, disiplin, deh, dengan jadwal itu. Lalu perhatikan juga aktivitas kita di antara waktu makan. Jika di sela-sela waktu makan aktivitas kita adalah ngemil, segera temukan alternatif kegiatan.
Buat, deh, daftar aktivitas lain yang kita sukai selain makan. Dan yang nggak kalah penting, olahraga teratur! Selain melatih pola pikir positif, olah-raga bisa menjauhkan kita dari stres sehingga kita bisa lebih kuat menghadapi perasaan negatif yang kita alami.
Yang terakhir adalah istirahat cukup. Penelitian ilmiah menunjukkan kelelahan mental dapat menimbulkan penurunan kemampuan individu untuk menghadapi stres. Makanya istirahat, deh, setelah mengalami hari melelahkan.
Makan mungkin bisa memberikan kenyamanan sementara saat kita sedang bete. Tapi ingat, deh, kalau badan sudah melar dan berbagai penyakit muncul, stres bukannya hilang malah bisa tambah bertumpuk. Jadi, siap-siap memesan pizza saat bete karena dimarahi bos? Pikir-pikir dulu….
Sediakan Camilan
Mungkin terkesan kontradiktif, tapi sebenarnya menyediakan camilan bisa membuat kita mengontrol perilaku makan. Adanya camilan membuat kita tidak lari ke toko pastry untuk membeli berbagai makanan yang berkalori tinggi. Asal ingat untuk memilih camilan sehat seperti buah-buahan, ya.






betul, selain tidur, makan adalah yang hal biasa saya lakukan kalau sudah suntuk
musti diperhatiin ya pak makannya, jangan kebablasan
Kalo aku stress, larinya gak ke makan. paling maen game di internet/facebook. Kalo makan, ampun dah… kantong aku ikut stress
hikmah mengirit
jadi engga sembarang makan
Makan lagi, tidur lagi, makan lagi, tidur lagi, makan lagi
aku kalau makan ga pernah liat2 kondisi, lagi pengin makan yach makan
lebih baik lagi kalo bisa makan teratur
Waaah blognya seperti pelangi…penuh warna dan penuh gambar yg bikin melek mataaa…
Ngomong2,klo dah terlanjur beratnya nambah gimana dunkz…ada cara buat ngurangin lagi gitu?yg simpel dan ga pake otot kalo bisa..
macem-macem caranya, bisa puasa, diet, atau olahraga.
ai kelly lam kenal ya….
nice artikel
Putus cinta kok makan……tidur aja enak lho…
wah mas, kalo putus cinta mah, suka susah tidur
kalo aq malah kebalikannya, klo ada perasaan negatif…
malah g bisa makan sama sekali bahkan bisa 3 hari g makan…
rasanya enek klo makan,,,g tau juga tuh! knapa aq bisa gitu!
setidaknya makan bukan hal negatif dan bukan pula hal yang postitif, kan yang paling ditakutkan adalah bila kita strezzz malah akan melakukan hal2 yang negatif..
betul yos, hampir segala sesuatu asal tidak dilakukan berlebihan tidak menjadi masalah
siip dah…
wlaupun g bs makan sekalipun, bukan hal yang negatif…buktinya ane baik2 saja wlaupun g makan seharian!
kasihan sekali kau nak
sampai nggak bisa makan
Masih mending kalau stress jadi banyak makan, daripada panjat menara sutet, nah lho…
saya sendiri ga tahu sekarang terkadang stressss, olah raga rutin, tapi berat badan naik terus pas awal lebaran berat badan saya sekitar 54 Kg sekarang sudah 59 Kg ….. pantes celana pada ketat..
solusi terbaik apa ya…hihihihi tapi saya lagi nyari ebrat ideal nih
barangkali memang sudah tanda-tanda ketuaan pak
(* kabuuuurrr *)
[...] Bad MoodMakanan Obat Sakit RinganAwas Kebanyakan!Makanan Tepat, Tambah SemangatAsyiknya Minum SusuStres, ko Malah Makan ?Lebih Mengenal DarahBerkat Serat, Semua Lancar(Jangan) Bermain ApiBikin Jantung (Lebih) Sehat [...]
[...] mental tumbuh-tumbuhan (nafs al-nabat). Wilayah kerja (domain) mental tumbuh-tumbuhan adalah makan dan minum. Manusia dengan mental ini tentu tidak dapat menjalankan ibadah [...]