Berita terkini: Organisasi Kesehatan Sedunia (World Health Organization = WHO) menyatakan bahwa Indonesia menduduki tempat keempat – setelah Cina, India, dan Amerika Serikat – sebagai negara dengan penyandang diabetes terbanyak di dunia! Pada tahun 2000 jumlahnya diketahui ada 8,4 juta. Dan pada tahun 2030 diperkirakan akan meningkat menjadi 21,3 juta.
Kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang 230 juta, angka tersebut memang ‘belum seberapa’. Namun, tetap saja, itu bukan prestasi yang membanggakan, bukan? Apalagi fakta berikutnya menunjukkan bahwa usia diabetisi semakin lama semakin muda saja. Kalau selama ini diabetes banyak ditemukan di atas usia 45 tahun, belakangan ini semakin banyak saja usia produktif di bawah itu yang menyandangnya.
Penyebabnya? Lagi-lagi, gaya hidup. Kurang gerak, pola makan tinggi kalori, tentunya Anda tidak asing lagi, bukan? Itu semua tampaknya sudah menjadi ‘trademark’ orang muda yang mengaku selalu sibuk mengejar karier. Tanpa mereka sadari, kesehatan merekalah yang menjadi korban.
Beratnya kerja si insulin
Semua makanan yang mengandung karbohidrat, seperti roti, buah-buahan (tidak semua), susu, madu, akan diubah menjadi glukosa di dalam tubuh. Inilah yang akan digunakan tubuh sebagai sumber enerji. Yang mengatur peredaran glukosa ke seluruh tubuh adalah insulin, yaitu hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas, yangterletak di dekat perut. Insulin akan segera bekerja begitu ada makanan masuk ke tubuh. Tujuannya adalah menormalkan kadarglukosa dalam darah. Kalau insulin tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik, glukosa akan menumpuk dalam darah dan kadar gula darah akan meningkat. Inilah yang menimbulkan diabetes.
Mengapa insulin tidak bisa menjalankan tugasnya? Salah satunya karena memang hormon yang satu ini tidak diproduksi oleh pankreas, yang sel-selnya telah dirusak oleh sistem imunitas tubuh. Insulin yangtidak diproduksi ini harus diganti dengan suntikan insulin setiap hari sepanjang hidup. Biasanya kondisi tersebut dialami anak-anak dan remaja. Inilah yang disebut diabetes tipe 1 atau diabetes yang tergantung pada insulin.
Sampai saat ini belum diketahui penye-bab pasti diabetes tipe 1. Sejumlah ahli mengatakan bahwa faktor keturunan meme-gang peranan di sini. Infeksi virus juga bisa memicu sistem imunitas tubuh untuk merusak sel-sel pembuat insulin dalam pankreas.
Insulin juga bisa ada dalam tubuh, tetapi tidak cukup atau tidak bisa digunakan secara maksimal oleh tubuh atau tubuh mengalami resistensi terhadap insulin. Kondisi ini disebut diabetes tipe 2 atau diabetes yang tidak tergantung pada insulin. Inilah tipe yang paling banyak (85% – 90%) ditemukan di antara semua penyandang diabetes. Dan biasanya terjadi pada usia dewasa, walaupun kini anak-anak juga bisa mengalaminya.
Diabetes tipe 2 inilah yang disebutkan penyandangnya semakin bertambah dan usia penyandangnya semakin muda. Khususnya di negara-negara yang penduduknya besar. Seperti India, Cina, Amerika Serikat, juga Indonesia. Populasi yang besar membuat orang yang mengidap diabetes semakin kelihatan.
Selain itu, dunia semakin maju, perekonomian semakin bagus, sehingga penyakit-penyakit infeksi semakin berkurang. Sebagai gantinya, yang muncul sekarang adalah penyakit-penyakit akibat gaya hidup. Keterbatasan waktu yang terjadi karena mengejar karier membuat orang muda masa kini lebih senang menyantap junk food, yang pastinya tinggi lemak. Atau lebih memilih makanan ‘masa kini’ yang penampilannya lebih menggiurkan, seperti bermacam-macam cake atau soft drink bersoda, daripada gado-gado atau teh hijau.
Apalagi bila pemasukan kalori ini tidak diimbangi oleh aktivitas fisik yang memadai, bisa dipastikan akan terjadi kelebihan berat badan. Lemak yang berlebihan di dalam tubuh akan membuat insulin bekerja keras. Akibatnya, lama-kelamaan akan terjadi resistensi insulin.
Glukosa dari makanan akan diolah menjadi enerji oleh metabolisme tubuh. Semakin banyak Anda bergerak, semakin banyak glukosa yang terpakai. Nah, kalau aktivitas fisik Anda kurang, glukosa yang ada lama-kelamaan akan tertimbun dan berubah menjadi lemak. Sekali lagi, membuat insulin tubuh harus bekerja keras. Selanjutnya, terjadilah resistensi insulin.
Faktor keturunan juga memegang peranan cukup penting untuk menimbulkan diabetes. Semakin dekat hubungan kekerabatan yang ada antara Anda dan pengidap diabetes, semakin besar risiko yang Anda miliki. Misalnya, salah satu atau kedua orang tua Anda mengidap diabetes. Kalau salah satu orang tua Anda mengidap diabetes tipe 2, risiko Anda menjadi dua kali lipat. Kalau kedua orang tua Anda yang mengidapnya, risiko yang Anda hadapi semakin besar lagi, yaitu enam kali lipat. Saudara kandung Anda terkena diabetes tipe 2? Risiko Anda menjadi empat kali lipat.
Penelitian juga menyimpulkan bahwa bila kasus diabetes banyak ditemukan dalam keluarga, diabetes tipe 2 akan terjadi lebih dini. Dan semakin muda seseorang terkena diabetes, semakin besar kemungkinannya bagi keturunannya untuk mengidap penyakit tersebut. Namun, 80% penyandang diabetes tipe 1 diketahui tidak memiliki riwayat keluarga dengan diabetes.
Itu bukan harga mati, lho. Bukan berarti kalau orang tua Anda penyandang diabetes, lalu Anda juga akan ‘mengikuti jejaknya’. Gaya hidup tetap punya peran di sini. Walaupun orang tua Anda penyandang diabetes, kalau Anda tidak gemuk, ya, bisa saja Anda tidak kena diabetes.
Bisa Tanpa Gejala
Diabetes akan terjadi bila kadar glukosa dalam tubuh cukup tinggi (hiperglikemia). Kapan kadar glukosa dianggap berbahaya? Wardoyo menjelaskan bahwa saat Anda tidak makan, kadar gula darah Anda (kadar gula darah puasa) semestinya 110 mg/dl. Dua jam setelah itu, bila Anda makan, kadar gula darah Anda memang akan naik. Tetapi, normalnya tidak boleh lebih dari 140 mg/dl. Kalau kadar gula darah Anda saat puasa berada di angka 110 – 126 mg/dl, berarti Anda berada pada kondisi pradiabetes. Kalau saat puasa kadar gula darah Anda melebihi 126 mg/dl dan setelah makan melebihi 200 mg/dl, itulah yang disebut diabetes.
Kadar gula darah yang berlebih bisa menimbulkan perasaan ingin buang air kecil yang sering terjadi, haus terus-menerus, sangat lapar, sangat letih, pandangan kabur, dan berat badan turun tanpa penyebab yang jelas. Kalau mengalami ini, ada baiknya Anda segera memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui apakah Anda mengalami pradiabetes atau malah sudah masuk ke tahap diabetes. Ini perlu Anda perhatikan, karena kalau tidak segera ditangani, kondisi pradiabetes bisa ‘meningkat’ menjadi diabetes.
Namun, ada kalanya diabetes tidak menimbulkan gejala-gejala seperti di atas. Sehingga seseorang tidak menyadari bahwa ia menyandang penyakit yang juga kerap disebut ‘kencing manis’ ini. Misalnya, kadar gula darah sesudah makan 140. Beberapa bulan kemudian menjadi 150. Lalu, 160. Jadi, naiknya pelan-pelan. Tentu saja gejalanya tidak kelihatan atau tidak terasa. Lain halnya kalau dari 140 langsung naikjadi 300. Di sinilah akan timbul gejala. Jadi, itu tergantung progresivitas penyakit.
Kadang-kadang diabetes baru ketahuan setelah timbulnya penyulit. Misalnya, pasien datang ke dokter kulit karena kulitnya gatal-gatal. Saat diperiksa, tidak ditemukan masalah alergi atau masalah kulit lainnya. Setelah memeriksakan darah, baru diketahui bahwa ia mengidap diabetes. Atau seseorang yang akan menjalani operasi gigi, saat diminta cek darah, ternyata diketahui bahwa kadar gula darahnya tinggi.
Penyulit atau komplikasi adalah masalah-masalah yang bisa timbul kalau diabetes tidak segera ditangani secara memadai. Gula yang menumpuk bisa menimbulkan penyulit di dinding pembuluh darah kecil dan pembuluh darah besar. Pada pembuluh darah kecil bisa mengakibatkan masalah di mata, ginjal, kaki, dan saraf. Sedangkan pada pembuluh darah besar bisa menimbulkan masalah yang mengarah ke serangan jantung dan stroke.
Kerusakan pada pembuluh darah dalam mata (retinopathy) bisa menyebabkan kebutaan. Pada ginjal akan menimbulkan gagal ginjal atau penyakit ginjal (nephropathy). Kerusakan saraf (neuropathy), terutama pada tangan dan kaki, akan menimbulkan rasa kesemutan, baal, dan lemas. Bukan itu saja, diabetes juga bisa mempengaruhi kulit, gigi dan gusi, sistem pencernaan, serta sistem imunitas. Saking banyaknya penyulit yang ditimbulkan, ada pendapat di dunia kedokteran bahwa memahami diabetes berarti memahami berbagai gangguan kesehatan lain.
Memang tidak semua penyandang diabetes akan mengalami komplikasi atau penyulit. Para peneliti pun belum bisa memastikan mengapa seseorang mengalami diabetes, sementara orang lain tidak mengidapnya. Lama diabetes ada di dalam tubuh, genetik, berat badan, kadar aktivitas fisik, rokok, alkohol, kadar kolesterol, dan tekanan darah dicurigai sebagai pemicunya.
Bukan menderita, tetapi…
Aduh, kok, sepertinya diabetes membuat hidup benar-benar menderita, ya? Sebenarnya tidak perlu begitu, kalau Anda tahu cara menanganinya. Dan orang yang mengidap diabetes sebaiknya tidak disebut ‘penderita diabetes’. Secara psikologis, istilah itu membuat pengidapnya sangat menderita. Padahal, tidak begitu. Memang diabetes tidak bisa disembuhkan. Penyakit ini akan ada terus seumur hidup. Tetapi, usia harapan hidup pengidapnya bisa sama dengan mereka yang tidak mengalami diabetes. Asalkan ia bisa mengendalikan dirinya dengan baik. Makanya, lebih baik disebut ‘penyandang diabetes’.
Perlu ditekankan lima pilar penanganan diabetes, yaitu :
* Edukasi
* Pengaturan makan
* Gerak badan
* Pengobatan, dan
* Self-monitoring.
Edukasi bisa diperoleh melalui media atau buku. Penyandang diabetes harus mengenal segala sesuatu tentang penyakitnya. Dengan begitu, ia diharapkan bisa menaklukkan penyakitnya.Pilar berikutnya adalah pengaturan makan. Yang perlu diperhatikan oleh penyandang diabetes adalah asupan karbohidrat. Karena karbohidrat inilah yang akan diubah menjadi glukosa dalam darah dan bisa meningkat, kalau tidak dikendalikan.
Kecepatan makanan dalam meningkatkan kadar gula darah disebut ‘respons glikemia’. Respons ini dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti berapa banyak makanan yang Anda makan, berapa banyak makanan tersebut mengalami proses pengolahan. Misalnya, pasta yang dimasak secara keras memiliki respons glikemia yang lebih rendah daripada pasta yang dimasak terlalu lama.
Respons glikemia ini disebut juga indeks glikemia (glycaemic index = Gl). Makanan yang bisa cepat meningkatkan kadar glukosa darah dikatakan memiliki Gl tinggi. Sedangkan yang aksinya lambat dikatakan Gl-nya rendah.
Secara umum, semakin rendah nilai Gl sebuah makanan, semakin baik kualitas karbohidrat makanan tersebut. Tentu saja, penyandang diabetes disarankan untuk mengonsumsi makanan ber-GI rendah. Biasanya makanan seperti itu rendah kalori dan lemak serta tinggi serat, zat gizi, dan antioksidan.
Pola makan perlu diatur, begitu juga dengan aktivitas fisik. Itulah pilar penanganan berikutnya, yaitu olahraga teratur. Olahraga diyakini bisa membantu menurunkan berat badan dan memacu sirkulasi. Dengan begitu, olahraga bisa memperbaiki penyempitan pembuluh darah yang kalau tidak ditangani, bisa mengarah ke komplikasi diabetes. Aktivitas fisik secara teratur juga bisa membantu insulin bekerja lebih baik.
Pengaturan pola makan dan rutin berolah-raga memang merupakan aspek penting dalam pengendalian diabetes. Kalau ini belum berhasil mengendalikan kadar glukosa darah, penyandang diabetes perlu diberi obat oral untuk memperbaiki ‘kinerja’ insulin.
Kalau masih kurang ampuh juga, barulah pasien mendapat suntikan insulin. Itu untuk diabetes tipe 2. Sedangkan bagi pasien diabetes tipe 1, insulin dibutuhkan seumur hidup. Tentu saja semua pengobatan tersebut harus dikombinasikan dengan perubahan gaya hidup. Gaya hidup sudah diubah menjadi lebih sehat, obat pengendali glukosa sudah diminum, insulin pun sudah diberikan.
Semestinya itu semua bisa mengendalikan diabetes Anda. Tetapi, dokter atau rumah sakit tentunya tidak bisa mengawasi Anda terus-menerus selama 24 jam. Nah, di sinilah perlunya pilar kelima, yaitu self-monitoring. Untuk keperluan itu, dokter akan mengajarkan cara mengukur sendiri kadar gula darah seperti yang disarankan atau dibutuhkan dan menyuntikkan sendiri insulin.
Hasil self-monitoring tersebut sebaiknya didiskusikan bersama dokter. Hasil pada setiap pasien pasti berbeda-beda. Self-monitoring diperlukan untuk memahami diri sendiri dan penyakit yang diidap. Dengan begitu, pasien bisa mengendalikan penyakitnya.
Tujuan penanganan diabetes adalah menurunkan kadar gula darah. Kalau kadar gula darah turun, kemungkinan terjadinya komplikasi akan berkurang. Dan kalau komplikasi berkurang, kualitas hidup pasien menjadi lebih baik, usia harapan hidupnya pun menjadi panjang.
Namun, bukan hanya penyandang diabetes, lho, yang perlu memperbaiki gaya hidup. Anda yang ‘merasa’ sehat pun harus benar-benar hidup sehat. Pola makan sehat, olahraga teratur, berat badan normal. Itu syarat mutlak untuk memperoleh hidup yang benar-benar manis, bukan sekadar manis karena gula.
Pilih yang Rendah
Cobalah untuk lebih banyak mengonsumsi makanan yang memiliki indeks glikemia (glycaemic index = Gl) rendah dan menengah daripada yang tinggi. Makanan Anda sebaiknya terdiri atas vitamin, mineral, dan serat. Jangan hindari makanan menyehatkan, seperti semangka, hanya karena makanan tersebut ber-GI tinggi. Bagaimanapun juga, makanan tersebut tetap mengandung nutrisi lain yang bermanfaat.
Paling tidak sertakan sekurang-kurangnya satu makanan ber-GI rendah dalam setiap porsi makan Anda. Kalau Anda memilih makanan ber-GI tinggi, kombinasikan dengan makanan ber-GI rendah. Batasi porsi makanan olahan bertepung, karena biasanya rendah serat dan Gl-nya cukup tinggi.







thanks ya atas kunjunganya
wah jadi komentator awal nich
sukses selalu
tx
Your answer shows real intellingece.
QRtqmd epmsexbprulg
Arbzfv tlxilzvusbyo
wah…thanks buat infonya yang sangat lengkap.
memang lebih baik sebelumnya, kita mengenal penyakit itu, mencegahnya dengan pola hidup dan makan, serta olah raga yang teratur daripada kena dan baru mengobati.
Thanks buat info yang bermanfaat ini.
menyegarkan kembali ingatan seputar diabetes melitus. thanks
perawatan untuk mencegah lebih berharga dan murah dari menanggulangi hehehe salam
Aaaa…. tidak….
* dah enggak bisa buat masak…
malah buat derita tubuh…*
Penyakit mengerikan yang menggerogoti dikit2 ya
Mesti lebih menjaga pola makan nie
denger ya kata hati gw “ini baru namanya info…”
dengerkan ?
ya semoga selama kita bisa menajag pola makan tidak terkena penyakit ini
Ada gula ada semuuut.Mksdnya??Nyambùng gk ya…He..He
gaya hidup,
.
semoga gaya hidup saya menjauhi saya dari diabet.
Manisnya Gula Jangan Sampai Ganggu Manisnya Hidup…
Manisnya Lisan Jangan Sampai Ganggu Manisnya Kenangan…
Thanks infonya ya..
Topik tulisannya pasti digemari semut nich…
[...] Saat bete, nggak ada yang lebih menenangkan daripada makan coklat. Soalnya, coklat membantu tubuh melepaskan hormon endorfin sehingga kita lebih merasa happy dan bersemangat. Makanan manis, seperti es krim atau permen, memang ampuh melawan hormon penyebab stres, tapi nggak dianjurkan memakannya dalam jumlah terlalu banyak untuk menghindari resiko diabetes. [...]
[...] jangan lakukan latihan beban sebelum berbuka puasa. Sumber enerji latihan beban adalah gula darah. Menjelang berbuka, kadar gula darah sudah sangat drop. Bila ditambah dengan latihan beban, [...]
[...] Bagi suatu kaum, wafatnya seorang ulama seharusnya menjadi suatu hal yang sangat disesali, karena ulama itu dapat memotivasi dan membimbing umat menuju kemaslahatan hidup. [...]